Month: February 2019

Jadul Village Resort & Spa

UNGKAPAN di atas terwujud pada sebuah kompleks tempat tetirah  bernama Jadul Village Resort & Spa, yang berlokasi di Terusan Sesan Bajuri, kawasan Lembang Jawa Barat. Properti yang terdiri dari vila, restoran dan spa ini dikelilingi oleh perbukitan hijau yang segar dan udara yang sejuk. Konsep kompleks ini berawal dari keinginan pemilik properti untuk memanfaatkan koleksi barang antiknya mulai dari benda seni (artwork), dinding gebyok, kayu bekas bantalan rel kerata api sampai papan dan balok bekas kandang sapi. Beragam material ini di daur ulang dan dirancang kembali  menjagi rumah tradisional Jawa sekaligus menghadirkan kembali kemewahan zaman dulu yang dipadu dengan fasilitas modern dalam sebuah tempat tetirah ekslusif. Salah satu cluster vila yang tampil beda di kompleks ini ada vila tipe Limasan, terdiri dari tiga buah rumah beratap limasan yang ditata dengan posisi menyeruapai huruf U dan mengelilingi sebuah kolam bunga teratai.

Setiap rumah dapat diakses melalui jalan setapak yang dibuat seolah  – olah mengapung di atas kolam dan terdpat regol sebagai gerbang (lawang) menuju ke teras depan. Memasuki halaman vila, kita akan disambut oleh rimbunnya pepohonan di taman bergaya tropis. Tanaman air seperti papyrus daan tanaman berdaun lebar seperti pisang – pisangan sengaja di tata dihalaman sekaligus menjaga privasi penghuni vila. Taman yang dirancang oleh arsitek lanskap Reza Anwar dari Ateliier Lifesvape ini berhasil memberi pemandangan dan kesegaran khas alam pedesaan. Sosok bangunannya masih mengacu pada prinsip rumah tradisional khas Jawa tetapi beberapa bagian telah diubah sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masa kini. Contohnya dinding muka berupa gebyok berukir indah sedangkan teras depan atau emperannya kini dikelilingi oleh pagar kayu dan krepyak bambu.

Lantai teras dan ruang dalam vila dilapisi oleh ubin teraso warna hijau bermotif kawung dari batik klasik sedangkan furniturnya berupa kursi kayu dengan sandaran dan dudukan dari anyaman rotan khas zaman dulu. Beranjak ke dalam vila, kita akan menemuai ruang dalem omah yang simetris denga pintu masuk utama di tengah dan empat buah tiang struktural soko guru yang menopang atap serta ornamen dekoratif plafon yang lazim disebut tumpang sari. Dalam proses desainnya, beberapa prinsip rumah tradisional Jawa dimodifikasi diantaranya adalah susunan ruang dalam yang umumnya cenderung tertutup tetapi kini dibuat transparan tanpa banyak bidang penyekat.

Dulu, umumnya terdapat ruang senthong ditengah hunian yang berfungsi menyimpan hasil bumi tetapi kini ruangan tersebut dihilangkan dan diganti denga foyer yang menyatu dengan area duduk, area makan dan area meja kerja. Desain ini berhasil memberi kesan megah dan lapang cocok untuk liburan “berkelas”.

Modifikasi lain dalam desain rumah tradisional Jawa ini adalah tambahan (gandok) dua kamar tidur utama dan kamar tidur anak di bagian belakang vila. Seluruh area ini dipagari oleh dinding masif agar lebih aman. Perubahan lain adalah setiap kamar tidur dilengkapi oleh kamar mandi semi-outdoor yang terdiri dari area shower, bathtub dan wastafel bernuansa alami sehingga memberikan pengalaman unik saat berbilas. Perangkat modern seperti AC, TV kabel, minibar, dan kotak brankas semeakin menegaskan kesan modern di vila ini. Semua ruangan di vila ini juga dilengkapi oleh jendela kaca untuk memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memaksimalkan sirkulasi udara segar sehinga ruang dalam lebih sehat serta pandangan terasa lebih leluasa. Material utama konstruksi vila adalah kayu jati yang berusia ratusan tahun. Kayu ini tetap dipertahankan keasliannya yang diperoleh dari bongkaran rumah tua di kampung di Jawa lalu dipindahkan dan memasangnya kembali ke lokasi vila.

Kayu jati tersebut dibersihkan, dipotong dan diberi finishing bahkan ada yang ditambahi warna atau diukir jika diperlukan sesuai dengan kebutuhan desain diantaranya panel berukir gebyok yang dipakai sebagai hiasan dinding ataupun kamar mandi. Upaya pelesatarian warisan tempo dulu juga dilakuakn dengan cara menghias ruangan dengan koleksi benda seni ataupun aksesori bergaya etnik. Contohnya fooyer diisi oleh sebuah meja bundar yang dihias dengan bunga potong segar, mainan congklak dan pipa tembakau antik sedangkan area menonton TV dihiasi dengan lampu gantung, patung katu dan kain vintage  pada tiang-tiang soko guru. Satu set peralatan memasak zaman dulu ditata di dekat wastafel area makan sedangkan kain tenun nan eksotik turut mempercantik kelambu dan bedcover di kamar tidur. Sebuah batu kali berukuran besar sengaja dibelah dan dikerok menjadi tempat berendam dan wastafek di kamar mandi sehingga penghuni vila merasa seperti “demang” kaya dari tanah Jawa.

Berbagai upaya dan pengolahan desain kreatif yang pada Jadul Village Resort & Spa ini diharapkan dapat menjadikan properti ini sebagai salah satu alternatif tujuan wisata di Lembang dan menambah pendapatan Jawa Barat di sektor pariwisata.

Menyatu dengan Alam Tropis Modern

MEMILIKI RUMAH tinggal bergaya modern dan “menyatu” dengan alam tropis merupakan impian masyarakat urban masa kini yang mendambakan suasana indoor–outdoor  pada lahan yang terbatas. Berbagai konsep desain arsitektur diolah untuk menciptakan konsep yang kreatif dan mengekspresikan gaya hidup pemilik rumah. Salah satu wujudnya adalah hunian karya arsitek Ronald Pallencaoe dan Erick Laurentius S. dari konsultan Pranala Architect yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Dalam diskusi awalnya, pemilik rumah merinci kebutuhan ruang yang cukup banyak diantarnya enam buah kamar tidur, fasilitas pendukung seperti ruang fitness  dan home theater. Di samping itu diinginkan tampak muka hunian yang elegan tetapi tidak menyolok sekaligus melindungi privasi pemilik rumah. Permintaan pemilik rumah yang paling penting adalah pengolahan ruang dalam yang berorientasi ke arah taman belakang yang mendominasi lahan dengan total luas 2000 m2.

Sebagai langkah pertama , arsitek mengolah lahan yang berbentuk seperti huruf L atau biasa disebut ngantong dengan cara membagi hunian menjadi tiga zona yaitu zona utama untuk ruangan bersifat publik, zona khusus untuk ruangan bersifat privat dan zona pendukung untuk area servis. Sebuah area transisi dari halaman depan menuju ke ruang dalam hunian dan kearah taman belakang diolah menjadi foyer sekaligus galeri pribadi pemilik rumag. Formasi massa bangunan dirancang menyerupai huruf L dan ditempatkan di tengah lahar agar area sekitar batas kaveling dapat diolah menjadi taman samping. Massa bangunan yang posisinya ditarik jauh dari jalan di muka hunian ini didominasi oleh komposisi kubus geometris yang “lugas” dan diatur saling maju-mundur secara dinamis. Sesuai dengan keinginan pemilik rumah, fasad hunian yang menghadap ke arah barat ini didominasi oleh dinding masif.

Desain ini dipertegas dengan kanopi besar yang menaungi carpot agar dapat meredam teriknya cahaya matahari sekaligus menegaskan “permainan” tiga dimensi nan atraktif. Sebagian dinding luar dicat warna putih agar berkesan ringan, simpel dan menonjilkan bentuk kotak yang “bersih”(clean look). Sebagian aksen, fasad hunian dilapisi oleh traveertine warna krem dan batu alam warna cokelat tua serta dikombinasikan dengan deretan kolom penopang teritis dan carport. Atap dipilih model pelana dengan bahan penutup dari metal tipis sedangkan pintu masuk utama dibubat dari kayu trembesi solid dan handel aluminium yang kontras dengan lantai berlapis batu granit bakar sehingga tampil antraktif. Untuk menicptakan pengalaman ruang unik, arsitek merancang susunan ruang yang unik. Pertamana ruangan penerima tamu di tata bukan di dalam tetapi bersebrangan dengan carport di halaman muka dengan dinding kaca lebar.

Memasuki pintu utama, kita langsung menemui foyer yang sisi kiri dan sisi kanannya diapit oleh pintu – pintu menuju ke dalam tetapi sisi belakangnya sengaja terbuka agar “membingkai” pemandangan/vista ke arah kolam ikan dan taman belakang. Ruangan yang berada di sisi barat foyer tersebut adalah ruang keluarga yang ditata menyatu dengan ruang makan dan pantri. Alur ruang (sequence) ditata efisien, terbuka, “ mengalir” dengan plafon tinggi dan berorientasi ke taman belakang sehingga memaksimalkan kontinuitas visual antara ruang dalan dan taman. Aplikasi pintu kaca lipat-geser antara ruang dalam dan teras serta kolam ikan mengoptimalkan masuknya cahaya alami dan menciptakan kesan ruang dalam yang “merangkul” ruang luar (indoor-outdoor). Ruang tempat keluarga berkumpul ini juga dihias dengan plafon berlapis kisi-kisi kayu jati dan di dekatnya terdapat deratan lubang angin untuk memaksimalkan sirkulasi udara segar.

Arsitek juga banyak mengekspos dan memadukan warna serta tekstur material pabrikasi dan material alami secara kontras seperti batu trabertine dan marmer serpegiante untuk pelapis lantai dinding dalam diimbangi oleh cermin pelapis pintu kabinet pantri. Di sisi timur foyer , terdapat bangunan dua lantai yang berisi kamar tidur orang tua dan kamar tidur utama di lantai dasar, tiga buah kamar tidur anak dilantai atas serta sebuah kamar tidur tamu  di dekat foyer. Semua kamar tidur, area tangga dan selasar dilengkapi oleh jendela ataupun [intu kaca lebar seperti pada ruang keluarga berkumpul. Dalam menata interior hunian, arsitek bersama dengan pemilik rumah berupaya menciptakan suasana yang nyaman yang mencerminkan gaya hidup berkelas. Prlafon, dinding, lantai ataupun furnitur diberi finishing dengan palet warna natural mulai dari putih gading, cokelat, hijau sampai hitam.

Motif dan tekstur dari berbagai material dipadukan lalu ditonjolkan secara estetik seperti coffe table dari kayu solid dikombinasikan dengan sofa berlapis kulit. Sebagian loose furniture dan semua built in di pesan khusus/costomized  dengan detail ornamen khas agar mencerminkan karakter personal pemilik rumah. Tata cahaya(lighting) juga diperhatikan supaya tercipta suasana “hidup” dalam ruangan seperti efek cahaya dari indirect lighting di plafon gantung dan lampu meja dengan bentuk unik. Aspek penting lainnya dalam desain rumah tinggal ini adalah desain lanskap yang memadukan tanaman tropis seperti pohon kurma, karet korea, tabebuaya, pakis dan buang anggrek dengan tanaman eksotik dalam pot seperti gelombang cinta. Selain mereduksi panas di dalam hunian dan silau cahaya matahari, komposisi tanaman di sepanjang batas belakang kaveling menyamarkan tampilan dinding serta menjadi pusat perhatian (eye catcher) dari dalam hunian.

Secara keseluruhan rancangan arsitektur, desain interior dan lanskap hunian ini berhasil mengakomodasi kebutuhan dan gaya hidup pemilik rumah.

 

Struktur Eksperimen Arsitek

Kemudian arsitek juga bereksperimen denga struktur yang mengekspos tiang dan balok baja profil di dinding belakang hunian serta menerapkan bidang kaca lebar untuk berbagai elemen mulai dari pagar balkon, jendela sampai kanopi. Konsep desain ini berhasil memaksimalkan sirkulasi udara segar dan memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam hunian serta menghemat konsumsi energi listrik. Arsitek juga memasang lift berukuran kecil di dekat meja pantri yang memudahkan pemilik rumah untuk mengantar makanan ataupun mengantar piring dan gelas kotor dari ruang makan di lantai satu ke dapur kotor di lantai dasar. Detail arsitektur lain adalah pagar balkon yang dirancang “menembus” jendela kaca dan menerus ke pagar tangga. Ada pula detail berupa lubang udaara pada dinding kaca dekat plafon yang disekat oleh kawat ram.

Untuk susunan ruang dalam, arsitek menempatkan foyer, ruang tamu dan kamar tidur tamu di lantai satu sedangkan transisi menuju ke bagian tengah hunaian diolah berupa tangga yang tediri dari beberapa anak tangga. Di tengah hunian, disusun ruang menonton TV yang menyatu dengan ruang makan dan pantri tanpa dinding penyekat masif serta dilengkapi oleh musala dan kamar mandi di pojok hunian. Area yang menjadi tempat berkumpul keluarga ini bersisian dengan teras, kolam renang dan taman belakang serta hanya disekat dengan dinding kaca lebar sehingga memberikan kesan indoor – outdoor yang segar. Di dekat tanggam terdapat kamar tidur tamu lainnya. Naik ke lantai dua, terdapat dua buak kamar tidur anak dan kamar tidur utama yang masing – masing dilengkapi oleh area belajar serta kamar mandi dalam.

Alur ruang (sequence) ditata efisien, terbuka dan “mengalir”, berorientasi ke arah taman dan kolam renang di halaman belakang serta dilengkapi oleh pintu kaca geser. Material yang dipakai adalah yang mudah dirawat seperti marmer untuk penutup lantai dan parket kayu untuk anak tangga dan untuk lantai kamar – kamar tidur. Atap beton di atas teras belakang juga dirancang dengan bentuk melengkung dan diolah menjadi balkon dengan taman sehingga menjadi tempat favorit untuk bersantai. Untuk mendukung desain arsitektur, interior hunian didesain oleh Imelda – Beyond bersama dengan pemilik rumah. Contohnya sofa model huruf L dan satu set kursi makan berlapis kulit bertema warna hitam putih dipadu dengan coffe table serta meja makan dari kaca.

  1. Eksperimen dengan struktur berupa tiang dan balok baja profil yang diekspos di dinding belakang hunian serta aplikasi bidang kaca lebar untuk berbagai elemen hunian mulai dari pagar balkon, jendela sampai kanopi.
  2. Interior hunian diisi oleh furnitur dan aksesori yang simpel elegan bertema warna hitam putih seperti terlihat pada sofa, rak dan partisi built indi ruang menonton TV.
  3. Alur ruang (sequence) ditata terbuaka dan berorientasi ke arah taman dan kolam renang di halaman belakang.
  4. Diatas area tangga, pantri dan ruang makan, dibuat voidmenerus dan dilengkapi oleh selaras di lantai dua. Alur ruangnya (squence) ditata secara efisien, terbuka dan “mengalir” sehingga berkesan lapang.
  5. Detail pagar balkon dirancang “menembus” dinding kaca lebar dan menerus ke pagar tangga sehinga menegaskan ciri rancangan hunian yang up to date.
  6. Area yang merupakan tempat keluarga berkumpul ini bersisian dengan teras, kolam renang dan taman belakang serta hanya disekat dengan dinding kaca lebar sehingga memberikan kesan indoor – outdooryang segar.
  7. Sebagai aksen, beberapa bidang dinding di kamar tidur utama dilapisi dengan wallpaper bermotif unik dan berwarna merah sehingga menciptakan suasana Jendela kaca yang lebar memberi pemandangan ke arah skyline ibu kota.
  8. Desainer interior Imelda (kiri), arsitek Tan Bun Kheng dan pemilik rumah, Arif.

 

Furnitur built in seperti partisi dan kabinet berlapis HPL motif serat kayu di ruang menonton TV serta kabinet pantri berlapis duco warna hitam put ih turut melengkapi penataan desain interior. Sebagai aksen, desainer melapisi beberapa bidang dinding dengan wallpaper bermotif unik dan berwarna cerah terutama di kamar-kamar tidur yang diolah dengantema tertentu. Soft furnishing berupa gorden dan vitrage jendela, bedcover cantik serta foto-foto keluarga di dinding menambah nyaman hunian ini Tata cahaya (lighting ) juga menjadi perhatian arsitek dan desainer interior agar tercipta suasaba “hangat” dan efek “dramatis” terutama di malam hari seperti dengan memakai lampu jenis indirect lighting pada plafon gantung dan lampu meja dengan model mutakhir. Secara keseluruhan desain rumah tinggal ini Berhasil memberi kepuasandan kebanggaan baik oagi pemilik rumah, bagi arsitek maupun bagi desainer interiornya.

BEREKSPERIMEN DENGAN STRUKTUR dan RUANG

Keunikan hunian yang diliput ini terletak pada eksplorasi struktur bangunan dan material mutakhir dengn komposisi bentuk geometris simpel serta susunan ruang transparan sehingga memberikan kenyamanan sekaligus mengekspresikan karakter pemiliknya.

 

KONSEP KEDIAMAN KELUARGA Arif dan Henny ini berawal dari keinginan mereka untuk tinggal di hunian bergaya minimalis pada kaveling yang berlokasi di Kemanggisan, Jakarta Barat. Hal ini diwujudkan oleh pemilik rumah berupa tampilan hunian yang clean, aplikasi material modern seperti kaca dan baja serta ruang dalam yang berkesan luas dan menyatu dengan ruang luar. Oleh karena itu pemilik rumah memberi kebebasan kepada arsitek Tan Bun Kheng dari BK Architects untuk mengembangkan desain pada kaveling seluas 375 m2. Kontur lahan yang semakin tinggi dari jalan depan ke arah belakang dan wujud hunian sekitar kompleks yang sudah lama serta cenderung menonton, merupakan tantangan bagi arsitek untuk menghadirkan unsur “kejutan’ pada desain hunian tersebut.

 

ARSITEKTUR

  1. Wujud massa bangunan diolah berupa komposisi kubus geometris yang lugas, diatur saling maju mundur secara dinamis dan dinaungi oleh atap model pelana sehingga memberi kesan seperti rumah panggung modern.
  2. Etrance dilantai satu diolah dengan mengaplikasikan tangga dan kanopi berupa deretan kolom dekoratif dan kaca sehingga memberikan kesan atraktif kepada tamu yang datang.
  3. ruang tamu dengan plafon tinggi ini dilengkapi dengan rak built in yang memiliki dua muka sehingga tampil unik.

 

Pada tahap awal, arsitek memanfaatkan perbedaan tinggi tanah di muka lahan menjadi ruangan untuk garasi, area sevis dan ruang serbaguna di lantai dasar. Selanjutnya, massa bangunan dengan formasi menyerupai huruf L ini diolah berupa komposisi kubus geometris yang lugas dan diatur saling maju – mundur secara dinamis serta dinaungi oleh atap model pelana. Entrance  di lantai satu diolah dengan tangga dan kanopi berupa deretan koloom dekoratif dan kaca sehingga memberi kesan atraktif kepada tamu yang datang. Dinding muka hunian didominasi oleh jendela kaca lebar dan sebagian dinaungi oleh bidang penyekat luar (secondary skin) dari batang aluminium untuk meredam teriknya cahaya matahari. Desain ini berhasil menciptakan “permainan” tiga dimensi sekaligus menghasilkan bayang-bayang yang unik dari cahaya matahari.

Pengolahan detail arsitektur berupa kosen jendela kaca juga menegaskan ciri rancangan hunian yang up to date, sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Dominasi warna putih pada cat dinding hunian diberi aksentuasi berupa batu alam pelapis pagar dan lanskap di halaman muka agara tidak berkesan “dingin atau kaku”. Memasuki ruang dalam hunian, arsitek berupaya memaksimalkan kontinutas visual antarruang ataupun antar ruang dalam dan ruang luar agar hunian berkesan lapang. Caranya, ia merancang plafon lantai satu dan lantai dua setinggi 4 meter serta setiap ruang dilengkapi oleh jendela kaca lebar tanpa kosen dari lantai sampai plafon. Diatas area tangga, pantri dan ruang makan, dibut void menerus dan dilengkapi oleh selasar di lantai dua.

Vila Mary Kemegahan Arsitektural

Kemegaan arsitektural vila ditunjukkan dengan terdapatnya struktur kolom dari kayu bengkirai yang dibulatkan dan diberi joint stainless steel pada ujung atas dan bawahnya untuk menopang bangunan dua lantai. Arsitek juga menggunakan kayu tersebut sebagai bagian dari rangka ekspos pada bangunan gazebo terbuka di depan kolam renang dan balai duduk di lantai tiga. Seratnya dan warna kayu memberikan kesan bangunan yang kuat dan kokoh tetapi terasa “hangat”. Apabila melihat “permainan” bentuk pada bangunan ini, arsitek menerapkan bentuk – bentuk sederhana yang geometri. Terdapatnya pengulangan pola kotak dan garis tegas merupakan identitas lainnya yang juga ditonjolkan di vila ini. Penggunaan material alami yaitu batu dan kayu memberikan kesan yang melunakkan pada bentuk – bentuk yang cenderung “kaku” tersebut.

  1. Area makan yang tersambung dengan ruang menonton TV terasa segar berkat desain terbuka kearah taman dalam dan kearah kolam renang.
  2. Area makan terasa “hangat” dengan nuansa yang alami melalui konsistensi penggunaan material alami seperti marmer pada lantai, kayu tembesi pada meja makan dan penggunaan HPL bernuansa kayu pada kitchen set.
  3. Balai yang berada di lantai tiga ini dilengkapi dengan sofa rotan sintetik yang cocok sebagai furnitur outdoor.
  4. Panorama indah menghadap kearah laut dapat dinikmatu dari lantai dua vila ini.
  5. Vila Mary tampak “bersahaja” dengan komposisi bidang masif dengan elemen organik seperti material alami dan unsur hijau.

 

PENGOLAHAN DESAIN INTERIOR

Pengolahan desain interior yang berkaitan dengan pengolahan bentuk dan material mengacu pada desain tropis modern yang natural. Hal tersebut terlihat pada pengulangan bentuk kotak dan garis yang menggunakan material alami seperti terlihat pada fasad bangunan sampai masuk ke ruang dalam. Terdapatnya aplikasi batu andesit terlihat pada gerbang utama, pintu masuk dan dinding ruang menonton TV. Aplikasi material kayu juga didesain dengan pola pengulangan garis. Hal ini terlihat pada desain pintu masuk, terali jendela pada kamar dan koridor serta beberapa partisi seperti yang terdpaat pada area kamar mandi. Artsitek juga menerapkan pola pengulangan sebagai unsur dekorasi. Hal tersebut terlihat pada treatment dinding balok kayu yang disusun dinamis pada dinding ruang koridor dan dinding fasad bangunan.

Adapun acuan desain yang diterapkan pada furnitur yaitu kesinambungan terhadap pola bentuk dan penggunaan material. Secara umum, furnitur yang dipilih merupakan furnitur dengan bentuk simpel dengan mengutamakan kesan natural. Sebagian furnitur mengusahakan tampilan kayu dengan finishing natural agar terlihat lebih alami. Kehadiran kayu solid merabau untuk meja makan menambah kesan alami dan eksotiknya desain natural pada vila ini.

Secara keseluruhan Vila Mary didesain dengan mengutamakan kesinambungan desain dan kenyamanan arsitektural dan desain interior sehingga tampil serasi meskipun dengan pola dinamis. Pada akhirnya, Vila Mary dapat memberikan suguhan tempat beristrirahat yang nyaman dan menyenangkan.

Vila Tropis Modern

67 Desain Rumah Vila Minimalis

Menikmati waktu bersantai bersama keluarga ataupun dengan kerabat disebuah vila merupakan satu cara untuk berlibur yang menyenangkan. Hal ini dapat kita rasakan ketika berlibur dengan suasana di Pulau Bali yang  memiliki atmosfer menyenangkan dan ideal untuk berlibur.

 

DESAIN TROPIS MODERN

Sebuah vila yang diliput Griya Asri ini berada dikawasan Canggu dan berlokasi berdekatan dengan pantai. Suasana santai dan homey menjadi pendukung aktivitas berlibur disini. Vila yang bernama vila Mary ini merupakan vila pribadi yang juga dikelola untuk disewakan. Berada diatas lahan 1250 m2 dengan bangunan seluas 340m2. Vila Mary dibangun menjadi tiga lantai dengan satu lantai untuk balai dilantai tiga yang menghadap pemandangan lepas ke arah alam terbuka. Apabila dilihat dari depan, sosok bangunnan terlihat tampak sederhana. Pintu utama yang berhubungan dengan gerbang dpan diapit dua pohon rindang yang “menyembunyikan” sosok bangunan utama. Hal in pus memberikan kesan bangunan yang “bersahaja” dengan suasana yan sejuk.

 

ARSITEKTUR

  1. Benyaknya tampak unik dan berbeda dengan paduan struktur yang terlihat tegas dengan desain atap lengkung. Pola keramik pada kolam dibuat menyerupai pola batik dengan menggunakan kombinasi dua material batu.
  2. Tampak depan yang memperlihatkan oreintasi vila ke ruang dalam.
  3. Kesan yang berbeda dan unik hadir melalui unsur lengkung pada kanopi gerbang masuk.

 

Beralih ke ruang dalam, hubungan ruang yang berkesinambungan dengan alur ruang yang mengalir menunjukkan adalanya kesatuan yang diutamakan dalam pola desain ruangannya. Bangunan yang didesain dengan pola huruf L menghadap kearah taman dalam dan kearah kolam renang meiliki sirkulasi udara yang baik dan nyaman. Pada lantai satu pola ruangan dibuat “mengalir “dan pada lantai dua ruangan dibuat dalam pola linier. Selain itu ruang – ruang yang dibuat terbuka dengan bidang transparan membuat cahaya matahari dan sirkulasi udara asuk ke seluruh ruangan. Secara umum, hal tersebut merupakan aplikasi dari desain arsitektur bangunan tropis yang cocok diterapkan pada bangunan didaerah beriklim tropis. Keadaan iklim tropis Bali dengan temperatur udara yang cukup panas yaitu antara 24,0 derajat Celcius sampai 30,8 derajat Celcius merupakan latar belakang untuk aplikasi desain tersebut.

Komang Suardika Jeghier sebagai arsitek Vila Mary diberi kebebasan oleh pemilik vila untuk mengekspresikan idenya pada perancangan dan pembangunan vila ini. Pemilik vila hanya meminta agar vila ini dapat tampil unik dan berbeda sehingga dapat memberikan pengalaman menarik bagi pemilik vila ataupun para tamu. Adapaun keunikan yang ditampilkan Komang dalam Vila Mary terlihat pada desain arsitekturalnya, khususnya pada desain atap yang dibentuk menyerupai perahu terbalik. Sebenarnya bentuk ini terinspirasi dari bentuk punggung klipes  yang merupakan satu jenis binatang air yang dikenal di Bali.