AWAN SIMATUPANG : Pematung yang Peduli terhadap Lingkungan

Pria kelahiran Jakarta 1967 ini sejak kecil sudah bercita-cita ingin menjadi seniman. Ketika duduk di bangku SMA, cit-acita itu kian mengakar kuat untuk menjadi seniman pematung. Karena itulahse lepas SMA, Awan langsung masuk ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

 “SEJAK KECIL saya memang sudah senang dengan patung karena saya mendapat tugas dari orang tua unt uk membersihkan koleksi patung yang ada di rumah. Lama­kelamaan saya menyukai benda tiga dimensi tersebut dan sempat terpikirkan oleh saya bagaimana cara membuatnya. Pikiran inilah yang selalu terhunjam di benak saya sehingga saya memutuskan untuk menjadi pematung, “ ujar Awan menceritakan ketertarikannya pada patung.

Sejak mulai berkarya sampai saat ini Awan sudah sering mengikuti berbagai pam eran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Selepas dari IKJ, Awan sempat menambah ilmunya dengan mengikuti workshop di La Sale College, Goethe Institute Singapore, dan desain poster di Antonio Ratti Fondazione, Como, Italia. Karya-karya Awan sarat dengan simbol dan ada pesan yang terkandung di dalam karyanya yang penuh falsafah. Bentuk karyanya memang berupa sculpture yang bentuknya abstrak. Perlu imajinasi yang kuat untuk menangkap makna yang terkandung dalam setiap karyanya. Karya­ karyanya sebagian besar memakai material yang mudah didapat seperti perunggu, fiber glass, dan stainless steel.

“Namun, belakangan ini saya mulai memakai barang-barang bekas. Barang-barang yang sudah tidak terpakai tersebut dapat bermanfaat kembali bahkan memiliki nilai lebih. Karya saya selain membuat instalasi, sculpture, dan ada juga yang bersifat kinetic (sesuatu yang dapat digerakkan), “ ujarnya.

Dalam berkarya, ayah dua putra ini selalu memakai tema tertentu. Terna pertama dalam karyanya adalah “Seri Rumah”. Menurutnya, rumah memiliki simbol yang sangat universal. Di dalamnya terdapat penghuni yaitu manusia. Faktor human itulah, yang diangkat dalam dinamika kehidupan ini dan semua itu tertuang dalam wujud sebuah karya seni. Awan adalah sosok seniman yang sangat peduli terhadap lingkungan. Konsep yang dijalankannya ialah konsep 2 R yaitu Re-use dan Recycle.

Menurutnya, saat ini penting mengupayakan bagaimana kita dapat memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi sehingga memiliki nilai seni yang tinggi. Seperti yang dilakukannya dengan sepeda bekas dan motor bekas, terciptalah benda seni yang bernilai tinggi. Hal ini sangat sejalan dengan pemikirannya yang sangat menyukai barang-barang lama (vintage). Namun, Awan juga menyadari bahwa ia hidup di zaman modern sehingga barang-barang lama tersebut “disulapnya” menjadi barang dengan fungsi yang baru. Hal ini terlihat dari karyanya yang berjudul “Tangker” terbuat dari bekas tangki motor buatan tahun 1950-an.

Awan memang tidak mau bergantung pada satu jenis material saja. Oleh karena itu, ia selalu hunting barang untuk dapat diolah menjadi sebuah karya seni baru. Saat ini ia sedang mengumpulkan barang bekas yaitu bathup yang akan digarapnya untuk karya berikutnya.

“Dalam berkarya saya seperti seorang desainer, ada tahapan-tahapan yang harus saya kerjakan. Bila karya sudah jadi, saya berpikir bagaikan seorang pedagang, bagaimana karya saya ini dapat bernilai jual. Untuk itulah, saya harus banyak menghubungi galeri untuk dapat bekerja sama dengan saya, “ ujar Awan.

Dengan ide yang selalu mengalir, berbagai material mampu dibuatnya menjadi sebuah karya seni yang menarik, membuat khazanah baru dalam seni kontemporer, dan Awan Simatupang merupakan salah satu pelaku di dalamnya. Karya yang dihasilkannya mengandung berbagai pesan moral. Berbagai karya yang telah dihasilkannya kini banyak dikoleksi oleh kolektor yang setia dengan karya-karya barunya.

  1. “Inside”.
  2. “Awan Simatupang”.
  3. “Message in the Bottle”.
  4. “Lullaby”
  5. “Rumah Besar”.
  6. “The Show Must Go On
  7. “Senzi”.
  8. “Tangker”.
  9. “Father and Child”.
  10. “Money for Nothing”.
  11. “June.”“

Leave a Reply