BERNOSTALGIA LEWAT KARYA KAYU

Dalam rangka merayakan tahun baru lmlek tahun 2012 ini TARI Gallery mempersembahkan pameran seni berupa lukisan dengan medium kayu dan pameran patung yang terbuat dari kayu yang dipahat. Pameran yang mengusung tema  “Memory of a Lost Chinese Past “ memamerkan karya seniman Amrus Natalsya.

PATUNG DAN LUKISAN berbahan kayu ini hanya Amrus yang mengerjakan di Indonesia. Karya yang seperti itu memang  tiada  duanya di sini. Selain itu juga Amrus membuat patung kayu yang menggambarkan rumah-rumah Cina masa lampau. Rumah berarsitektur amat khas itu dilengkapi dengan pagar dan pepohonan sehingga bak sebuah maket unik dan dekoratif.

Amrus membangkitkan kenangan visual lewat lukisan dan patung yang dibuat di atas kayu. Sebuah papan ia pahat sehingga membentuk relief objek masa lalu dengan tetap mempertahankan karakter kayu tersebut yang diberi warna.

Menurut ljek Widyakrisnadi, pemilik TARI Gallery, dalam berkarya Amrus menyusuri banyak kota di Indonesia terutama kawasan Pecinan (tempat permukiman orang Cina) di Cirebon, Semarang, Surabaya, Medan serta Jakarta seperti daerah Laotze, Gang Sentiong, Grogol, Pasar Pagi dan segitiga Senen.

Menurut Amrus, ia berhasil menemukan jejak-jejak tradisional kaum Tionghoa yang mencirikan kebudayaan nenek moyang Indonesia. Pendahulu kita di pedalaman Sumatera, Kalimantan sampai Papua adalah seniman yang gemar melukis pahatan dengan media kayu.

Amrus Natalsya, pria kelahiran Natal Mandailing, Medan, tanggal 21 Oktober 1933, dalam mematung tampak  “membumi “ baik dalam memilih bahan baku kayu, mengolah bentuk, membentuk sapuan warna maupun menuangkan sifat dan karakter keseniannya. Amrus pernah mendapatkan penghargaan Karya Terbaik Triennale Jakarta II (1998) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Seniman yang sudah dikenal sejak tahun 1950-an ini dari tahun ke tahun terus menekuni lukisan dan patung kayu. Berbagai gagasan ia wujudkan dan aneka tema ia usung seperti dalam kehidupan sehari-hari orang desa di perkampungan, keriuhan masyarakat kampung, kesibukan orang-orang kota, panorama pegunungan, panorama laut dan suasana di dalam rumah sebuah keluarga yang berbahagia. Selain menampilkan tema kehidupan di perkampungan, dalam pameran ini Amrus juga melukiskan tema baru yaitu kehidupan kaum urban di kota besar.

Patung karya Amrus lebih ekspresif seperti patung Asmat. Meskipun dipengaruhi unsur tradisional, Amrus tidak pernah menamakan karya patungnya itu dengan label tradisional, modern kontemporer atau apa pun. Yang penting patung baginya harus bagus dan  “menggetarkan “ hati bagi penikmatnya. Adapun semua karyanya itu berproses sangat panjang.

Contohnya patung kapal Nabi Nuh menceritakan tentang kisah Nabi Nuh yang membuat perahu untuk menyelamatkan satwa dan umatnya dari terjangan air bah. Patung perahu yang banyak berisi binatang ini terbuat dari kayu trembesi. Perahu tidak terlihat lancip tetapi dibuat berbentuk cembung.

Amrus memilih objek patung kayunya tersebut dengan membuat adegan dan dialog sendiri. Amrus kerap menghadirkan suasana lingkungan dan masyarakat apa pun sebagai subject matter. Namun, yang pasti detail karyanya  “ramai “  dan sesuai dengan karakter . Amrus. la membuat pepohonan hijau dan orang yang kecil pada karya kayunya.

Dalam karya lain ia dapat memperlihatkan karya patung berbahan kayu gelondongan dalam bentuk rumah dan orang-orang yang berdesakan dengan diukir lebih detail berupa tiga dimensi (3D).

Leave a Reply