BOEDI MRANATA: Pelestari keramik antik indonesia

BERKAT USAHANYA dalam menyelamatkan dan melestarikan benda tersebut, banyak bukti-bukti sejarah interaksi bangsa Indonesia de gan bangsa lain, dapat terselamatkan dan tidak  “terbang “ ke luar negen.

Usaha Boedi Mranata dalam menyelamatkan keramik antik dimulai ketika tahun 1984, ia pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan untuk gelar doktor biologi di Universitas Hamburg, Jerman.

Boedi Mranata tertarik untuk menyelamatkan keramik antik yang telah berumur ratusan tahun dan tersebar di berbagai perairan Indonesia, karena barang-barang tersebut merupakan bukti sejarah yang nyata akan interaksi masyarakat Indonesia dengan masyarakat luar Indonesia yang sejak dahulu sudah terbangun. Hal itu disebabkan keramik merupakan benda yang tidak mudah hancur dimakan usia, sedangkan objek perdagangan-perdagangan yang lain seperti kain sutera saat ini sudah musnah.

“Banyak hal-hal di Indonesia ini yang indah, termasuk barang-barang kuno yang banyak terdapat di Indonesia. Barang-barang kuno tersebut erat kaitannya dengan budaya kita dan merupakan tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat untuk memeliharanya. Saya mempunyai komitmen untuk menjaga barang-barang kuno tersebut jangan sampai hilang dan  “pergi “ ke luar negeri. Jadi, tidak sekadar mengoleksi saja, “ ujar Boedi Mranata ketika ditemui Griya Asri beberapa waktu lalu di sebuah pameran budaya di Jakarta.

Bapak dari tiga orang anak ini mengaku tak jarang ia harus berjuang untuk mendapatkan koleksi keramiknya yang banyak ia dapatkan di daerah seperti Aceh, di pelosok-pelosok Kalimantan dan Sulawesi. Kadang-kadang ia harus pergi ke Serawak sampai Belanda untuk membawa pulang kembali barang-barang kuno tersebut yang sudah terlanjur dilelang di negeri orang.

Banyak dari koleksi keramik yang dimiliki oleh Boedi Mranata mempunyai kisah sejarah yang sangat seru. Contohnya salah satu koleksi keramik berbentuk gentong. Menurut kisah sejarahnya, benda tersebut adalah salah satu barang pusaka masyarakat Kalimantan Timur yang dahulu menjadi  “uang “ ganti rugi akibat peperangan yang hebat.

“Saya berharap, masyarakat Indonesia memiliki kesadaran untuk menjaga semua jenis barang-barang kuno ini, jadi tidak terbatas pada keramik saja karena barang-barang kuno tersebut adalah bagian warisan berharga nenek moyang kita, “ ujar Boedi Mranata yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Keramik Indonesia (HKI).

Selain mengoleksi keramik antik, pria yang di kalangan teman­ temannya juga dikenal sebagai si raja walet Indonesia ini aktif dalam kegiatan lingkungan hidup. Dia merupakan Patron untuk Organisasi Burung Indonesia yang merupakan bagian dari Birdlife Internationa l. Bersama organisasi tersebut, ia melakukan konservasi hutan dan melestarikan burung liar seluas 100.000 hektare yang berada di dua pro vinsi yaitu Jambi dan Sumatera Selatan.

Proyek konservasi hutan pertama di Indonesia ini sangat penting untuk perubahan iklim dunia sehingga pada tahun 2008 menarik minat Pangeran Charles dari lnggris untuk berkunjung ke sana.  “Harapan saya dalam waktu 30 tahun mendatang hutan yang rusak ini akan menjadi hutan belantara kembali, “ ujar Boedi Mranata mengakhiri wawancara dengan tim Griya Asri.

Leave a Reply