Category: Uncategorized

FORMASI KUBUS yang ANGGUN PERKANTORAN JAKARTA

Modern, efisien, elegan dan nyaman. Demikaian gambaran suasana kediaman sekaligus kantor yang berlokasi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang merupakan hasil karya tim arsitek Mozes Iwan Mulyawan dari Mozaic Architect.

BANGUNAN INI merupakan salah satu konsep desain rumah kantor (home office) yang isnpiratif, berlokasi di huk jalan dengan luas 335 m2. Kantor yang bergerak dalam bidang bisnis bahan bangunan ini berada di lantai dasar sedanngkan tempat tinggal dengan empat buah kamar tidur berada di lantai atas. Pada tahap awal, arsitek merancang bentuk massa bengunnan yang didominasi oleh kubus – kubus geometris denga komposisi saling maju mundur secara dinamis pada kedua sisi kaveling yang menghadap ke jalan. Entrance yang berada di tengah lantai satu dari fasad bangunan utama dipertegas dengan pencapaian melaui tangga dan kanopi di tengah bangunan. Adapun akses ke kantor yang berada di pojok latau dasar dari fasad bangunan samping sengaja disamarkan agar tidak mengganggu kegiatan di dalam hunian ataupun sekitarnya.

Kedua bidang fasad bangunan diolah dengan kombinasi dinding masif, jendela kaca dan tetris simpel serta bidang penyekat luar bangunan (secondary skin) dari batang aluminium menjadi aksen atraktif. Partisi transparan ini ditempatkan di muka jendela pantri dan modelnya didesain serupa dengan kanopi entrance sehingga sama-sama tampil menarik dan meliindungi ruang dalam dari teriknya sinar matahari. Sebagian besar dinding eksterior  diberi finishing cat khusus yang warna dan motifnya menyerupai permukaan tembaga sehingga menjadi daya tarik (point of interest) hunian. Bentuk bangunan yang geometris ini diimbangi oleh unsur natural seperti batu alam dan pepohonan di halaman serta diiringi oleh gemericik air dari kolam renang. Berbeda dari hunian umumnya, fasilitas untuk berenang ini berada di lantai satu, persis  diatas ruang kantor di lantai dasar, sehingga penghuni lebih leluasa berenang tanpa langsung terlihat oleh orang yang lewat di jalan. sebagian dinding luar ruang kantor sengaja ditutupi oleh tanah dan ditanammi oleh pepohonan sedangkan halamannya dipagari oleh turao batu alam, sehingga tampilan hunian berkesan lebih “bersahabat”.

Masuk ke dalam hunian, arsitek merancang susunan ruang/flow yang terbuka dan “mengalir” terutama di tempat berkumpul (living dan dining area) di lantai satu sehingga ruang interiornya terasa lapang serta kontinuitas visual antara area indoor  dan area outdoor menjadi maksimal. Foyer dan ruang tamu ditempatkan di muka dan disekat dengan deretan balok kayu yang transparan terhadap area dalam hunian sehingga privasi keluarga lebih terjaga. Beranjak ke tengah hunian, arsitek menata area menonton TV, area makan dan area tangga secara meyatu serta hanya dipisah dengan pintu kaca geser terhadap balkon dan kolam renang di samping hunian. Tangga yang didesain dengan model menyerupai huruf U ini dilengkapi oleh void setinggi dua lantai dan dihias dengan deratan balok kayu yang serupa dengan desain yang terletak di foyer sehingga tampil menarik. Arsitek juga merancang bukaan lebar pada setiap ruang termasuk daerah pojok hunian diatas area servis, agar dapat mengoptimalkan masuknya cahaya akami dan mengoptimalkan sirkulasi udara segara ke dalam ruang, sesuai dengan keinginan pemilik rumah.

Naik ke lantai atas, terdapat kamar tidur utama yang bersebelahan dengan kamar tidur anak. Setiap kamar tersebut dilengkapi oleh ruang kerja, walk in wardrobe dan kamar mandi dalam serta balkon yang memberi pemandangan ke arah kolam renang. Selain satu kamar tidur tamu yang lain di lantai dasar untuk fasilitas orang tua. Arsitek juga bereksplorasi dengan material dan ornamen dekoratif yang tidak mahal   tetapi tetap tampil unik dan mudah merawatnya seperti pemakaian homogenous tile sebagai penutup lantai ruang dalam dan parket katu laminating khusus untuk kamar tidur. Untuk pengisian ruang interior, pemilik rumah yang memilih furnitur dan aksesori yang clean look serta ditata minimalis sehingga tidak berkesan “sesak”. Warna-warni earth tones uang cenderung terang seperti gradasi cokelat, krem, putih tulang dipadu dengan material alami seperti katu dan bahan pelapis kulit sintetik sehingga ruangan tampil homey. Ornamen dekoratif built in seperti panel untuk kepala ranjang (bed head) dan meja nakas ataupun kabinet walk in closet dirancang dengan efisien dan estetik.

Tata cahaya(lighting) juga diolah agar dapat menyorot keindahan detail bangunan sepeti secondary skin dari bilah aluminium di luar kamar tidur sekaligus menciptakan suasana hunian yang “hidup”. Secara keseluruhan desain arsitektur dan desain interior hunian ini berhasil memenuhi kebutuhan dan mengekspresikan gaya hidup penghuninya.

Jadul Village Resort & Spa

UNGKAPAN di atas terwujud pada sebuah kompleks tempat tetirah  bernama Jadul Village Resort & Spa, yang berlokasi di Terusan Sesan Bajuri, kawasan Lembang Jawa Barat. Properti yang terdiri dari vila, restoran dan spa ini dikelilingi oleh perbukitan hijau yang segar dan udara yang sejuk. Konsep kompleks ini berawal dari keinginan pemilik properti untuk memanfaatkan koleksi barang antiknya mulai dari benda seni (artwork), dinding gebyok, kayu bekas bantalan rel kerata api sampai papan dan balok bekas kandang sapi. Beragam material ini di daur ulang dan dirancang kembali  menjagi rumah tradisional Jawa sekaligus menghadirkan kembali kemewahan zaman dulu yang dipadu dengan fasilitas modern dalam sebuah tempat tetirah ekslusif. Salah satu cluster vila yang tampil beda di kompleks ini ada vila tipe Limasan, terdiri dari tiga buah rumah beratap limasan yang ditata dengan posisi menyeruapai huruf U dan mengelilingi sebuah kolam bunga teratai.

Setiap rumah dapat diakses melalui jalan setapak yang dibuat seolah  – olah mengapung di atas kolam dan terdpat regol sebagai gerbang (lawang) menuju ke teras depan. Memasuki halaman vila, kita akan disambut oleh rimbunnya pepohonan di taman bergaya tropis. Tanaman air seperti papyrus daan tanaman berdaun lebar seperti pisang – pisangan sengaja di tata dihalaman sekaligus menjaga privasi penghuni vila. Taman yang dirancang oleh arsitek lanskap Reza Anwar dari Ateliier Lifesvape ini berhasil memberi pemandangan dan kesegaran khas alam pedesaan. Sosok bangunannya masih mengacu pada prinsip rumah tradisional khas Jawa tetapi beberapa bagian telah diubah sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masa kini. Contohnya dinding muka berupa gebyok berukir indah sedangkan teras depan atau emperannya kini dikelilingi oleh pagar kayu dan krepyak bambu.

Lantai teras dan ruang dalam vila dilapisi oleh ubin teraso warna hijau bermotif kawung dari batik klasik sedangkan furniturnya berupa kursi kayu dengan sandaran dan dudukan dari anyaman rotan khas zaman dulu. Beranjak ke dalam vila, kita akan menemuai ruang dalem omah yang simetris denga pintu masuk utama di tengah dan empat buah tiang struktural soko guru yang menopang atap serta ornamen dekoratif plafon yang lazim disebut tumpang sari. Dalam proses desainnya, beberapa prinsip rumah tradisional Jawa dimodifikasi diantaranya adalah susunan ruang dalam yang umumnya cenderung tertutup tetapi kini dibuat transparan tanpa banyak bidang penyekat.

Dulu, umumnya terdapat ruang senthong ditengah hunian yang berfungsi menyimpan hasil bumi tetapi kini ruangan tersebut dihilangkan dan diganti denga foyer yang menyatu dengan area duduk, area makan dan area meja kerja. Desain ini berhasil memberi kesan megah dan lapang cocok untuk liburan “berkelas”.

Modifikasi lain dalam desain rumah tradisional Jawa ini adalah tambahan (gandok) dua kamar tidur utama dan kamar tidur anak di bagian belakang vila. Seluruh area ini dipagari oleh dinding masif agar lebih aman. Perubahan lain adalah setiap kamar tidur dilengkapi oleh kamar mandi semi-outdoor yang terdiri dari area shower, bathtub dan wastafel bernuansa alami sehingga memberikan pengalaman unik saat berbilas. Perangkat modern seperti AC, TV kabel, minibar, dan kotak brankas semeakin menegaskan kesan modern di vila ini. Semua ruangan di vila ini juga dilengkapi oleh jendela kaca untuk memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memaksimalkan sirkulasi udara segar sehinga ruang dalam lebih sehat serta pandangan terasa lebih leluasa. Material utama konstruksi vila adalah kayu jati yang berusia ratusan tahun. Kayu ini tetap dipertahankan keasliannya yang diperoleh dari bongkaran rumah tua di kampung di Jawa lalu dipindahkan dan memasangnya kembali ke lokasi vila.

Kayu jati tersebut dibersihkan, dipotong dan diberi finishing bahkan ada yang ditambahi warna atau diukir jika diperlukan sesuai dengan kebutuhan desain diantaranya panel berukir gebyok yang dipakai sebagai hiasan dinding ataupun kamar mandi. Upaya pelesatarian warisan tempo dulu juga dilakuakn dengan cara menghias ruangan dengan koleksi benda seni ataupun aksesori bergaya etnik. Contohnya fooyer diisi oleh sebuah meja bundar yang dihias dengan bunga potong segar, mainan congklak dan pipa tembakau antik sedangkan area menonton TV dihiasi dengan lampu gantung, patung katu dan kain vintage  pada tiang-tiang soko guru. Satu set peralatan memasak zaman dulu ditata di dekat wastafel area makan sedangkan kain tenun nan eksotik turut mempercantik kelambu dan bedcover di kamar tidur. Sebuah batu kali berukuran besar sengaja dibelah dan dikerok menjadi tempat berendam dan wastafek di kamar mandi sehingga penghuni vila merasa seperti “demang” kaya dari tanah Jawa.

Berbagai upaya dan pengolahan desain kreatif yang pada Jadul Village Resort & Spa ini diharapkan dapat menjadikan properti ini sebagai salah satu alternatif tujuan wisata di Lembang dan menambah pendapatan Jawa Barat di sektor pariwisata.

BOEDI MRANATA: Pelestari keramik antik indonesia

BERKAT USAHANYA dalam menyelamatkan dan melestarikan benda tersebut, banyak bukti-bukti sejarah interaksi bangsa Indonesia de gan bangsa lain, dapat terselamatkan dan tidak  “terbang “ ke luar negen.

Usaha Boedi Mranata dalam menyelamatkan keramik antik dimulai ketika tahun 1984, ia pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan untuk gelar doktor biologi di Universitas Hamburg, Jerman.

Boedi Mranata tertarik untuk menyelamatkan keramik antik yang telah berumur ratusan tahun dan tersebar di berbagai perairan Indonesia, karena barang-barang tersebut merupakan bukti sejarah yang nyata akan interaksi masyarakat Indonesia dengan masyarakat luar Indonesia yang sejak dahulu sudah terbangun. Hal itu disebabkan keramik merupakan benda yang tidak mudah hancur dimakan usia, sedangkan objek perdagangan-perdagangan yang lain seperti kain sutera saat ini sudah musnah.

“Banyak hal-hal di Indonesia ini yang indah, termasuk barang-barang kuno yang banyak terdapat di Indonesia. Barang-barang kuno tersebut erat kaitannya dengan budaya kita dan merupakan tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat untuk memeliharanya. Saya mempunyai komitmen untuk menjaga barang-barang kuno tersebut jangan sampai hilang dan  “pergi “ ke luar negeri. Jadi, tidak sekadar mengoleksi saja, “ ujar Boedi Mranata ketika ditemui Griya Asri beberapa waktu lalu di sebuah pameran budaya di Jakarta.

Bapak dari tiga orang anak ini mengaku tak jarang ia harus berjuang untuk mendapatkan koleksi keramiknya yang banyak ia dapatkan di daerah seperti Aceh, di pelosok-pelosok Kalimantan dan Sulawesi. Kadang-kadang ia harus pergi ke Serawak sampai Belanda untuk membawa pulang kembali barang-barang kuno tersebut yang sudah terlanjur dilelang di negeri orang.

Banyak dari koleksi keramik yang dimiliki oleh Boedi Mranata mempunyai kisah sejarah yang sangat seru. Contohnya salah satu koleksi keramik berbentuk gentong. Menurut kisah sejarahnya, benda tersebut adalah salah satu barang pusaka masyarakat Kalimantan Timur yang dahulu menjadi  “uang “ ganti rugi akibat peperangan yang hebat.

“Saya berharap, masyarakat Indonesia memiliki kesadaran untuk menjaga semua jenis barang-barang kuno ini, jadi tidak terbatas pada keramik saja karena barang-barang kuno tersebut adalah bagian warisan berharga nenek moyang kita, “ ujar Boedi Mranata yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Keramik Indonesia (HKI).

Selain mengoleksi keramik antik, pria yang di kalangan teman­ temannya juga dikenal sebagai si raja walet Indonesia ini aktif dalam kegiatan lingkungan hidup. Dia merupakan Patron untuk Organisasi Burung Indonesia yang merupakan bagian dari Birdlife Internationa l. Bersama organisasi tersebut, ia melakukan konservasi hutan dan melestarikan burung liar seluas 100.000 hektare yang berada di dua pro vinsi yaitu Jambi dan Sumatera Selatan.

Proyek konservasi hutan pertama di Indonesia ini sangat penting untuk perubahan iklim dunia sehingga pada tahun 2008 menarik minat Pangeran Charles dari lnggris untuk berkunjung ke sana.  “Harapan saya dalam waktu 30 tahun mendatang hutan yang rusak ini akan menjadi hutan belantara kembali, “ ujar Boedi Mranata mengakhiri wawancara dengan tim Griya Asri.

EKSPLORASI KONSTRUKSI RUMAH

Keunikan hunian yang diliput ini terletak pada desain bentuk dan desain ruang yang dinamis serta berpadu harmonis dengan kontruksi yang menerapkan struktur bangunan tahan gempa

Dalam merancang dan membangun rumah tinggal, aspek struktur dan aspek kontruksi kerap tidak  “sejalan “ dengan desain arsitektur sehingga tidak memberikan hasil maksimal. Salah satu  desain yang berhasil mewu judkan hunian modern dan didukung oleh eksplorasi konstruksi adalah kediaman keluarga Edi Gunawanto di kompleks Bumi Serpong Damai, Tange rang, yang dikerjakan oleh Andreas dari Al co, Solusi Rumah Holcim. Sebagai keluarga muda, pemilik rumah menginginkan hunian minimalis yang dipadu dengan material alami. Kaveling seluas 325 m2 yang berada di huk jalan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ruang yang bervariasi diantaranya area untuk hobi seperti kolam ikan. Pemilik rumah juga memberikan perhat ian khusus pada sistem konst ruksi dan material yang berkualitas  tinggi  seperti  dalam hal daya tahan terhadap beban, hemat waktu dan hemat biaya pengerjaan.

Di tahap awal, massa bangunan ditempatkan di tengah lahan yang memiliki Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sebesar 40 persen sehingga terbentuk halaman muka dan halaman samping yang bersifat publik serta dilengkapi oleh taman yang lebih tinggi posisinya (elevated garden ). Halaman belakang hunian dirancang lebih tertutup untuk teras yang bersifat privat dan tempat bermain anak. Wujud hunian didesain berupa susunan boks-boksyang simpel dan diatur maju -mundur secara dinamis. Fasad bangunannya diolah menjadi dua muka yaitu tampak  depan dan tampak samping yang sama-sama diolah secara estetik. Dalam  mengolah fasad bangunan, arsitek bersama dengan pemilik rumah mengombinasikan finishing dinding berupa cat dengan batu alam. Cat dinding warna abu -abu diberi aksen berupa gawangan berlapis batu andesit yang menegaskan area masuk di muk hunian sed angkan bidang dinding lain diberi finishing cat bertekstur garis-garis.

Atap massa bangunan yang datar dan teritis yang dicat warna oranye semakin menegaskan tampilan hunian minimalis. Namun demikian, kusen,  daun  pintu dan jendela memakai kayu jati. Adapun halamannya ditanami pepohonan rimbun sehingga wajah hunian tampak  “segar  “. Dalam menyusun ruang dalam, bagian depan hunian ditata khusus untuk area publik yaitu foyer, area penerima tamu, kamar tidur tamu dan area tangga.

Sementara itu bagian tengah hunian yang merupakan pusat kegiatan keluarga ditata untuk area menonton TV, area makan dan pantri yang menyatu tanpa dinding penyekat serta dikelilingi oleh jendela sehingga hunian terasa lapang. Naik ke lantai  atas, terdapat  kamar tidur utama- yang dilengkapi oleh walk in wardrobe, kamar mandi dan dua buah kamar tidur anak. Agar susunan ruang lebih efisien, sebagian dari area servis ditata dengan pola split level.

Susunan ruang ini berhasil mengoptimalkan masuknya cahaya alami, mengoptimalkan sirkulasi udara segar di dalam hunian dan memperoleh pemandangan hijau ke arah luar. Seluruh lantai, dinding dan plafon diberi finishing warna putih serta dilengkapi oleh tata cahaya (lighting) di antara lampu tersembunyi di plafon gantung dan lampu gantung di area tangga.

Furnitur dipilih yang simpel dan didominasi oleh warna­warna alami seperti sofa dan kursi makan dilapisi kulit warna abu-abu. Kabinet dan meja pantri dilapisi duco warna oranye. Selanjutnya, sistem konstruksi di hunian ini juga menerapkan solusi berwawasan lingkungan (sustainable housing) dari Holcim Indonesia yang terbukti lebih maju. Menurut Andreas, komponen utama dalam konstruksi ini berupa bata pracetak ( concrete block) berbahan baku semen, yang dikenal oleh masyarakat umumnya dengan merek Bataton, yang didukung oleh teknologi canggih.

Model dan ukuran Bataton bervariasi. Ada yang berbentuk bujur sangkar dan dapat disusun menjadi kolom struktural. Ada yang berupa genteng dan ada pula berupa plat lantai. Secara keseluruhan desain dan konstruksi hunian ini berhasil mengakomodasi keinginan pemilik rumah.

 

  1. Konstruksi hunian ini menerapkan solusi berwawasan lingkungan (sanstainablehousing) dan Holcim Indonesia. Dindingnya pun berfungsi struktural atau sebagai pernahan beban.
  2. Apabila dilihat dari luar, hunian ini tampil seperti hunian lain. Padahal komposisi campuran pada Bataton yang menyusun dinding telah dirancang secara khusus agar memenuhi lateria struktur  penahan gempa bumi dan telah di aplikasikan untuk hunian korban gempa di Aceh serta Yogyakarta.
  3. Meskipun luasnya terbatas, ruang penerima tamu tampil welcoming dengan sofa empuk dan kombinasi warna yang dinamis.
  4. Bagian tengan hunian
  5. yang merupakan pusat kegiatan keluarga ditata untuk area menonton TV, area makan dan pantri yang menyatu tanpa dinding penyekat serta dikelilingi oleh jendela sehingga hunian terasa lapang.
  6. Finishing kabinet yang
  7. berwarna oranye dan hitam menambah kesan dinamis desain pantri yang ditat bersisian dengan ruang makan.
  8. Finshing wallpaperdan lampu gantung yang artistik merupakan daya tarik area tangga antara lain dengan terdapatnya jendela kaca lebar yang memasukan cahaya alami sepanjang hari.
  9. Padu padan warna – warna earth tonespada kamar tidur utama yang dilengkapi oleh walk in wardrope dan meja kerja ini memberikan suasana teduh dan terang.

Pengaruh Gaya MANHATTAN pada Hunian Masa Kini

Lahan  terbatas  dan gaya hidup serbapraktis serta modern merupakan dua hal yang lazim ditemukan pada masyarakat yang hidup di kawasan urban. Hunian vertikal seperti apartemen merupakan solusi yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat urban.

 

“LESS IS M ORE. Its especially in the apartment where space is at premium. “ Ungkapan inilah yang kemudian mendasari konsep desain sebuah unit apart emen di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Kondisi ruang tinggal yang terbatas menuntut desainer untuk dapat memaksimalkan penggunaan lahan sehingga dapat berfungsi optimal. Selvi Sanu ri dari Design Corner sebagai desainer interior unit apart emen milik keluarga Fanny ini sangat paham tuntutan tersebut. Dengan luas ruang unit apartemen yang hanya 225 m1. Selvi concern mengolah pengaturan alur ruang memilih material yang tepat dan membuat solusi pintar terhadap pengadaaan sarana simpan latar belakang keluarga Fanny dengan empat orang anak  tiga  anak  perempuan  dan satu anak laki-laki merupakan pertimbangan terhadap pemenuhan kebutuhan ruang,. Kondisi unit yang awalnya hanya memiliki dua kamar tidur sekarang ditambah satu  kamar  menjadi tiga kamar tidur yaitu satu kmar utama dengan fasilitas kamar mandi en-suite dan walk in closet. satulcamar untuk anak perempuan dan ruang kamar yang baru bagi si bungsu anak laki-laki Dengan memegang prinsip ruang yang saling berkesinambungan dan menghindari kesan sesak. dinding pembatas kamar anak bungsu sengaja menggunakan material kaca transparan Untuk kepentingan privasi penghuni desainer menyiapkan vertical blind yang sewaktu- waktu dapat ditutup dengan mudah. Adapun ruang yang bersifat semiprivat seperti ruang menonton TV, ruang makan dan pantri sengaja dibuat menyatu dengan alur ruang yang terbuka.

Desain clean look yang tampak simpel dan konsep serbapraktis dipilih sebagai ekspresi hunian dengan latar belalcang hun ian apartemen di kawasan urban. Pemilihan  gaya Manhattan pun dirasa cocok untuk diaplikasikan pada hunian ini. Hal tersebut juga merupakan cerminan karakter keluarga Fanny yang menyukai segala sesuatu yang modern tetapi  tetap  bernilai artistik. Furnitur dengan potongan garis lurus

Komposisi warna hitam, abu­ abu dan putih dengan kombinasi material alami yang tampil dalam bentuk modern berhasil menghadirkan   suasana gaya Manhattan yang cozy untuk sebuah hunian urban.

dan tidak berornamen merupakan  pilihan utama. Pemilik apartemen yang menyukai produk karya desainer ternama memilih furnitur Him and Her Chair karya Fabio Novembre koleksi Casamania yang memberikan tampilan unik di ruang makan dan the woopy armchair karya Karim Rashid koleksi B-Line di ruang menonton TV. Adapun wardrobe tersembunyi tanpa handle yang memberikan tampilan bersih dipilih sebagai furnitur sarana simpan yang maksimal. Selvi mendesain wardrobe dengan mempertimbangkan penempatan benda yang disimpan seperti kemeja, baju, gaun ataupun koper sehingga dapat menciptakan sarana simpan yang optimal. Desainer juga mendesain wardrobe khusus untuk menyimpan koleksi pemilik apartemen berupa handbag dan sepatu seperti pada walk in closet kamar utama selain mendesain di lemari foyer dan ruang makan

Warna hitam, abu-abu dan putih menjadi warna dominan untuk tampilan desain interior bergaya Manhattan ini. Dinding bercat abu- abu dengan treatment pola lengkung dari material multipleks ber-finishing duco putih pada ruang menonton TV yang memberikan kesan lebih fleksibel dan lebih lembut. Ada pula pemasangan plafon yang diberi pola zig­ zag berwarna putih memberikan kesan yang lebih dinamis. Warna hitam dan abu-abu yang dominan tersebut diperoleh pula dari pemilihan material yang banyak menggunakan black mirror dan HPL serta pilihan finishing pada furnitur lain. Adapun warna-warna terang seperti warna merah justru diperoleh dari beberapa aksesori pengisi desain interior yang juga merupakan aksen yang menghidupkan suasana.

Secara keseluruhan desainer berhasil menampilkan konsep desain interior bergaya Manhattan yang intens sehingga dapat memberikan sebuah karakter hunian urban yang modern dan praktis. Selain itu hunian ini juga merupakan sebuah hasil karya seni yang dapat mengekspresikan karakter dari pemiliknya.

Interor

  1. Pada ruang dibuat terbuka dan mengalir mulai dari floyer, pantri , ruang makan sampai ruang menonton TV.
  2. Sebagai hunian berkelas apartemen memiliki keunikan tersendiri yaitu adanya pemandangan kota yang mempesona terlebih di malam hari.
  3. Sofa kulit hitam, coffee table kaca, karpet shaggy, armchair dan dinding bercat abu-abu yang diberi treatment multipleks finishing duco memberikan tampil elegan dan cenderung lebih tenang
  4. Selain ditata secara cantik, area foyer juga dimanfaatkan sebagai area penyimpanan sepatu koleksi pemilik apartemen yang pintunya didesain menyerupai padded wali menggunakan kain velvet berwarna fuschia yang  “mengejutkan “.
  5. Furnitur Him and Her Chair yang unik dan berkesan playful dikombinasika dengan chandeller yang cantik dan elegan.
  6. Desainer memberikan sentuhan yang lebih natural pada kamar tidur utama untuk mencipatakan suasana yang lebih homey seperti pada lantai parket dan pemilihan warna cokelat. Keindahan lampu-lampu swarovski di plafon seakan-akan menggantikan bintang di langit saat malam hari .
  7. Desainer membuat handbag glass storage pada area walk in closet untuk memperoleh kesan yang lebih ringan dan menghilangkan kesan sesak pada ruangan. Tinted glass digunakan pada pintu lemari wardrope untuk memberikan ilusi ruang yang lebih luas.
  8. Diantara aplikasi material bernuansa natural dan berkesab  “matang’, warna merah pada chandelier memberikan aksen yang menarik.
  9. Balkon dibuat lebih hijau dengan aplikasi rumput artifisial untuk menggantikan halaman yang  “hilang “ pada sebuah apartemen.
  10. Desainer menerapkan konsep desain smart untuk memanfaatkan seriap ruang sebagai sarana simpan tersembunyi. Seperti laci untuk penyimpanan baju dibawah ranjang dan lemari pajangan built-in pada bed head.
  11. Kamar anak remaja permpuan didesain lebih simpel dengan aplikasi HPL white oak yang lembut dan pada finishing seperangkat furniturnya kehadiran toobe floor lamp orange dari Kartail dapat membentuk suasana  “hangat “ di kamar ini.
  12. Kamar anak laki-laki berusia enam tahun ini dibuat lebih playful dengan kombinasi wallpaperberbeda motif dan aksen warna hijau muda yang terang.

AWAN SIMATUPANG : Pematung yang Peduli terhadap Lingkungan

Pria kelahiran Jakarta 1967 ini sejak kecil sudah bercita-cita ingin menjadi seniman. Ketika duduk di bangku SMA, cit-acita itu kian mengakar kuat untuk menjadi seniman pematung. Karena itulahse lepas SMA, Awan langsung masuk ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

 “SEJAK KECIL saya memang sudah senang dengan patung karena saya mendapat tugas dari orang tua unt uk membersihkan koleksi patung yang ada di rumah. Lama­kelamaan saya menyukai benda tiga dimensi tersebut dan sempat terpikirkan oleh saya bagaimana cara membuatnya. Pikiran inilah yang selalu terhunjam di benak saya sehingga saya memutuskan untuk menjadi pematung, “ ujar Awan menceritakan ketertarikannya pada patung.

Sejak mulai berkarya sampai saat ini Awan sudah sering mengikuti berbagai pam eran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Selepas dari IKJ, Awan sempat menambah ilmunya dengan mengikuti workshop di La Sale College, Goethe Institute Singapore, dan desain poster di Antonio Ratti Fondazione, Como, Italia. Karya-karya Awan sarat dengan simbol dan ada pesan yang terkandung di dalam karyanya yang penuh falsafah. Bentuk karyanya memang berupa sculpture yang bentuknya abstrak. Perlu imajinasi yang kuat untuk menangkap makna yang terkandung dalam setiap karyanya. Karya­ karyanya sebagian besar memakai material yang mudah didapat seperti perunggu, fiber glass, dan stainless steel.

“Namun, belakangan ini saya mulai memakai barang-barang bekas. Barang-barang yang sudah tidak terpakai tersebut dapat bermanfaat kembali bahkan memiliki nilai lebih. Karya saya selain membuat instalasi, sculpture, dan ada juga yang bersifat kinetic (sesuatu yang dapat digerakkan), “ ujarnya.

Dalam berkarya, ayah dua putra ini selalu memakai tema tertentu. Terna pertama dalam karyanya adalah “Seri Rumah”. Menurutnya, rumah memiliki simbol yang sangat universal. Di dalamnya terdapat penghuni yaitu manusia. Faktor human itulah, yang diangkat dalam dinamika kehidupan ini dan semua itu tertuang dalam wujud sebuah karya seni. Awan adalah sosok seniman yang sangat peduli terhadap lingkungan. Konsep yang dijalankannya ialah konsep 2 R yaitu Re-use dan Recycle.

Menurutnya, saat ini penting mengupayakan bagaimana kita dapat memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi sehingga memiliki nilai seni yang tinggi. Seperti yang dilakukannya dengan sepeda bekas dan motor bekas, terciptalah benda seni yang bernilai tinggi. Hal ini sangat sejalan dengan pemikirannya yang sangat menyukai barang-barang lama (vintage). Namun, Awan juga menyadari bahwa ia hidup di zaman modern sehingga barang-barang lama tersebut “disulapnya” menjadi barang dengan fungsi yang baru. Hal ini terlihat dari karyanya yang berjudul “Tangker” terbuat dari bekas tangki motor buatan tahun 1950-an.

Awan memang tidak mau bergantung pada satu jenis material saja. Oleh karena itu, ia selalu hunting barang untuk dapat diolah menjadi sebuah karya seni baru. Saat ini ia sedang mengumpulkan barang bekas yaitu bathup yang akan digarapnya untuk karya berikutnya.

“Dalam berkarya saya seperti seorang desainer, ada tahapan-tahapan yang harus saya kerjakan. Bila karya sudah jadi, saya berpikir bagaikan seorang pedagang, bagaimana karya saya ini dapat bernilai jual. Untuk itulah, saya harus banyak menghubungi galeri untuk dapat bekerja sama dengan saya, “ ujar Awan.

Dengan ide yang selalu mengalir, berbagai material mampu dibuatnya menjadi sebuah karya seni yang menarik, membuat khazanah baru dalam seni kontemporer, dan Awan Simatupang merupakan salah satu pelaku di dalamnya. Karya yang dihasilkannya mengandung berbagai pesan moral. Berbagai karya yang telah dihasilkannya kini banyak dikoleksi oleh kolektor yang setia dengan karya-karya barunya.

  1. “Inside”.
  2. “Awan Simatupang”.
  3. “Message in the Bottle”.
  4. “Lullaby”
  5. “Rumah Besar”.
  6. “The Show Must Go On
  7. “Senzi”.
  8. “Tangker”.
  9. “Father and Child”.
  10. “Money for Nothing”.
  11. “June.”“