Guest House dengan Desain Yang Serasi

SALAH SATU pilihan aktivitas akhir pekan bagi masyarakat urban adalah dengan menghindari suasana hiruk-pikuk kota sembari menikmati hawa sejuk dataran tinggi bersama keluarga.

Dengan nuansa arsitektur bergaya klasik Amerika atau lebih spesifiknya mengacu pada gaya American Foursquare, sebuah guesthouse di kawasan Pasteur, Bandung, Jawa Barat ini mengingatkan kita pada bungalo awal abad ke- 19 di negara bagian Amerika yang mendapat pengaruh gaya arsitektur Victorian dari Eropa.

Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 300 m2 ini awalnya merupakan tanah kosong tidak terawat yang berada di lahan pojok (huk). Posisi lahan tersebut ternyata memberi keuntungan tersendiri yaitu terdapatnya dua akses bangunan yakni sisi depan sebagai akses utama dan sisi samping yang oleh sang arsitek diolah menjadi area parkir tambahan yang terdapat pintu langsung ke area belakang guesthouse.

Guesthouse yang terdiri dari empat lantai ini diarsiteki oleh Mathias Indra atas permintaan Cuna, sang pemilik guesthouse yang menyenangi langgam arsitektur klasik Amerika. Baginya, gaya tersebut tak lekang oleh waktu (timeless) dan belum banyak terdapat di Indonesia sehingga harapannya dapat tampil sebagai sesuatu yang unik dan berbeda. Dengan demikian, terwujudlah sebuah bangunan bernuansa klasik yang diinginkan tersebut dengan beberapa penyesuaian dengan lahan dan aktivitas penghuni. Hal pertama yang terlihat adalah massa bangunan tunggal berbentuk kotak atau persegi (square) sebagaimana ciri gaya American Foursquare. Namun, karena sisi samping lahan ini berbentuk miring maka massa bangunan pun tidak berbentuk kotak sempurna. Pengolahan fasad bangunan juga mencerminkan ciri gaya American Foursquare yakni dengan finishing sebagian dindingnya berupa material bata karang pilang yang disusun membentuk mosaik. Karakter lain dari langgam ini adalah susunan lantai yang terdiri dari lantai basemen, dua lantai penuh, dan setengah lantai pada bagian atas bangunan.

Hal tersebut sesuai dengan guesthouse yang memiliki luas total bangunan mencapai sekitar 600 m2 ini. Dalam penataan ruangnya, bangunan ini disesuaikan dengan aktivitas penghuni. Dalam hal ini, lantai basemen, dengan ketinggian plafon yang lebih rendah (sekitar 210 cm), sebagai area servis di sisi belakang bangunan. Adapun area depan yang langsung berhubungan dengan carport depan rencananya akan dijadikan sebagai ruang usaha yang mendukung fungsi guesthouse seperti kafe dan restoran. Sementara itu, lantai satu digunakan sebagai area utama penerimaan tamu guesthouse, beberapa kamar, dan area sarapan. Hal menarik di lantai ini adalah showroom yang berdekatan dengan area penerimaan tamu. Ruang ini diperuntukkan sebagai area display aksesori kreasi sang pemilik guesthouse bersama rekannya. Selain  itu, di ruang ini juga akan diadakan workshop seperti untuk scrapbook dan jenis barang kerajinan (craft). Adapun bay window ala gaya Victorian pada ruang menjadi penegas karakter eksterior (fasad bangunan) sekaligus interior. Sudut yang terbentuk di antara ketiga sisi jendela membentuk beranda (porch) yang dimanfaatkan sebagai tempat duduk.

Kerja sama yang kompak antara arsitek dan pemilik guesthouse dapat dilihat pada penataan interior. Sang pemilik guesthouse yang berlatar belakang pendidikan desain gratis sangat terinspirasi dengan gaya interior Shabby Chic yang bercirikan vintage, penggunaan material kain (fabric), dan penggunaan warna pastel. Hasilnya, karakter tersebut dapat ditemui pada int erior kamar guesthouse ini. Tamu yang akan menginap dapat memilih kamar berdasarkan dekorasinya.

Tiga kamar di lantai satu dan enam kamar di lantai dua memiliki tema dekorasi yang berbeda­beda. Aneka aksesori chic didapat pemilik guesthouse dari hasil  “perburuannya “ke negara tetangga seperti Australia, Sing apura, dan Cina.

Yang menjadi ciri lain gaya American Foursquare adalah pemanfaatan lantai paling alas (top floor). Area ini terdiri dan ruang tanpa sekat (open space) dengan empat jendela atap yang menonjol dari atap bangunan (dormer). Adapun penyesuaian pada guesthouse ini adalah loteng (attic) di lantai tinga yang didominasi warna off white dijadikan area hunian bagi pemilik guesthouse in i yang terdiri dari dua kamar tidur, ruang duduk, ruang servis, dan dapur. Sebagai respons terhadap iklim tropis, terdapat treatment khusus pada plafon yang mengikuti bentuk atap yakni berupa bilah gypsum yang bertumpu pada GRC Board. Sisi papan yang menghadap genteng tersebut disemprot dengan zat yang berfungsi sebagai insulator panas. Dormer dimunculkan pada kedua kamar tidur yang dapat terlihat langsung dari fasad bangunan. Sebagaimana bay window pada showroom di lantai satu, sisi dalam dormer ini juga diberi bantalan empuk sehingga dapat digunakan sebagai area duduk bersantai sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah.

Penggabungan showroom, penginapan bagi tamu dan hunian bagi pemilik guesthouse menjadikan bangunan ini tampil padu (compact) dengan fungsi setiap ruangan yang berjalan baik. Pengolahan detail ruang yang tidak dibiarkan polos tetapi tetap fungsional merupakan karakter khas pada bangunan bergaya klasik Amerika ini.

Leave a Reply