HUNIAN TROPIS URBAN yang Inspiratif dan Bisa dicontoh

Memiliki sebuah hunian yang berlokasi strategis di tengah kota tentu didambakan oleh sebagian besar masyarakat urban, tetapi hal ini bukannya tanpa konsekuensi. Faktor keamanan, faktor keterbatasan luas lahan dan faktor kebisingan dari luar merupakan sejumilah faktor yang harus dipertimbangkan arsitek dalam merancang desain hunian di lingkungan urban yang padat.

HUNIAN yang diliput tim Griya Asri kall in berlokasi di kawasan urban kota Bandung. Permilik rumah merupakan dokter spesialis yarg memiliki sebuah klinik di tengah kota Bandung. la sengaja menempatkan huniannya tepat berada di belakang bangunan kliniknya. Jalan masuk menuju hunian merupakarn jalan yarig agak keil dengon lébar sekitar 3 meter. Secara keseluruhan bangunan ini memilili dua pintu masuk yaitu pintu melalui klinik yang berada di sisi jalan besar dan pintu yang mempunyai akses langsung ke hunian melalui jalan kecil di belakang.

Karena berada di lingkungan yang padat perumahan dengan jalan masuk yang tidak terlalu lebar, maka akan sulit untuk menikmati fasad hunian ini. Itulah sebabnya arsitek Alex Santoso membuat keputusan membuat konsep desain tertentu yaitu membuat orientasi banguran dalam. Namun, dengan luas lahan yang terbatas yaitu 370 m2 ditambah dengan kebutuhan ruangan yang banyak, tentu akan menyulitkan untuk membuat bangunan set back atau menciptakan innercourt.

Maka arsitek merancang sebuah koridor beser dengan ketinggian dua lantai pada area pintu masuk. Area koridor tinggi ini bertujuan agar depth bangunan dirasakan dan di eksterior hunion. Selain itu pada dibuat skylight yang berfungsi berfungsi memadukan cahaya matahari ke dalam sebagai penerangan. Koridor dengan skylight juga bertujuan untuk membawa suasana luar ke dalam hunian.

Proses desain hunian in dilakukan dalam dua tahap. Awalnya, arsitek diminta untuk merenovasi hunian dua lantai dengan ukuran lahan yang luasnya hanya separuh dari ukuran lahan yang sekarang. Di saat proses konstruksi sedang berlangsung,ternyata pemilik rumah berkesempatan untuk membeli lahan yang terada di sebelahnya, sehingga ukuran lahan secara keseluruhan adalah dua kali lebih yang tinggi luas dari luas lahan di awal proses desain. Dengan demikian arsitek pun harus marancang ulang desain awal dengan membuat konsep split level. Dengan demikian dapat dihasilkan sebuah desain baru tanpa mengorbankan struktur yang sudah terbangun.

Dengan konsep split level tersebut, pembagian area publik dan area privat pada ruang-ruang di dalam hunian menjadi lebih mudah. Lantai dasar dimanfaatkan untuk area servis, carport, pantri ruang makan dan taman. Adapun ruang-ruang ditempatkan di atas seperti tuang keluarga, kamar tidur utama, kamar tidur anak, ruang kerja dan perpustakaan.

Terlepas dari keterbatasan lahan dan proses desain yang rumit, arsitek sejak awal mengusung konsep tropis pada desain hunian ini. Bangunan tropis harus dibuat dengan memperhatikan pemanfaatan cahaya alami melalui bukaan dan skylight, perancangan sistem ventilasi alami yang baik dengan sistem cross ventilation serta menjaga suhu di dalam ruangan dengan penggunaan atap yang tinggi.

Penerapan skylight memang dilematis karena di satu sisi skylight berguna untuk memasukkan cahaya alami ke dalam ruangan sedangkan di sisi lain skylight juga dapat membuat temperatur ruangan menjadi lebih tinggi. Untuk itulah arsitek membuat detail pada skylight untuk mengatur penerimaan cahaya sesuai dengan kebutuhan.

Selain detail pada skylight, arsitek juga secara khusus menggarap detail pada tangga agar dapat memberikan daya tarik. Tangga dibuat double loaded. Bagian dalam adalah tangga spiral yang diperuntukkan sebagai tangga servis. Adapun pada bagian luar merupakan tangga utama yang mengelilingi tabung pembungkus tangga servis. Tangga utama ini dibuat dengan konstruksi baja. Uniknya, satu sisi plat baja bertumpu pada balok-balok IWF, sedangkan sisi lainnya bergantung pada handrail baja yang dibungkus dengan papan kayu. Dengan demikian anak tangga terlihat tipis dan ringan.

Unsur rumah tropis juga terlihat dari pengolahan tanaman dan elemen lanskap,  Elemen lanskap di sini berperan untuk  “melembutkan “ karakter yang kaku. Tanaman Sysigyum pada bagian pagar dibuat  “partisi hidup “ untuk menjaga privas dengan cara yang indah. Pada bagian dalam bangunan, banyak digunakan taman kering dan coral garden sebagai elemen lanskap.

Secara keseluruhan arsitek dapat menciptakan desain hunian dengan konsep tropis yang apik dan dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan penghuni rumah di dalam sebagai lahan yang terbatas

Leave a Reply