“Permainan “Blok yang Masif

Di kota metropolitan seperti Jakarta, permintaan akan lahan semak in meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Adapun jumlah lahan yang tersedia tidak bertambah. Oleh karena itu, telah menjadi kewajaran bagi warga metropolitan untuk tinggal di hunian vertikal atau landed house dengan luas lahan terbatas .

HUNIAN yang diliput Griya Asri kali ini membahas kiat membangun hunian dengan lahan terbatas. Perancangan hunian ini bertujuan agar hunian yang berdiri di atas lahan seluas 220 m2 ini dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan pemilik rumah. Tidak hanya itu, fokus lain dari perancangan hunian ini adalah agar hunian tetap terasa nyaman dihuni, terkesan lapang, dan men jadi sebuah hunian yang sehat dengan pencahayaan alami dan pengudaraan alami yang baik.

 

Konsep Fasad Bangunan dan Gubahan Massa Bangunan

Konsep arsitektur yang diaplikasikan oleh arsitek Herry Jani pada hunian ini adalah  “permainan “blok-blok masif pada fasad bangunan yang akan memberikan karakter simpel, modern, dan tegas. Fasad bangunan dengan bidang masif ini dikombinasikan dengan bentuk atap miring yang cocok diaplikasikan pada hunian yang berada di daerah beriklim tropis.

Adapun bentuk massa bangunannya berupa satu blok besar dari lahan itu sendiri. Hal ini diterapkan oleh arsitek mengingat permintaan kebutuhan akan ruang yang cukup banyak padahal lahan terbat as. N am un, untuk mendapatkan kesan fasad bangunan yang tidak terlalu besar (bulky) maka fasad bangunan ini dibagi menjadi dua. Satu merupakan bagian besar, adapun yang lain merupakan bagian yang lebih kecil, dan di antara dua blok fasad bangunan ini tercipta ruang berupa lorong udara yang menjorok ke dalam. Dengan desain yang seperti ini maka hunian terlihat lebih  “ramping” di area entrance dan lebih masif di area carport. Arsitek juga merancang sebuah kolam mungil di bagian lorong udara ini untuk meningkatkan kualitas visual dan menurunkan temperatur di bagian dalam hunian.

Karena gubahan massa bangunan yang berbentuk besar dan  “penuh “maka agar pencahaya an alami dan pengudaraan alami dapat tetap terjadi dengan baik, dibuatlah bukaan­ bukaan yang menerus di beberapa bagian di dalam hunian. Pada area tangga dan pada bagian belakang hunian juga dirancang  “sumber” cahaya yang menerus dari atas. Adanya  “sumber” cahaya ini memungkinkan setiap ruangan pada hunian ini mendapatkan pencahayaan alami. Selain itu,  “sumber” cahaya ini juga berfungsi sebagai ventilasi silang dengan bukaan louvre di bagian atap dak.

Pembagian Ruangan

Pada hunian ini, arsitek membagi zoning ruangan dengan baik. Lantai dasar diperuntukkan sebagai area servis dan area komunal. Area servis dan area komunal ini dipisahkan dengan batas yang tegas agar kenyamanan penghuni tetap terjaga dengan baik. Area komunal terdiri dari foyer, kamar untuk orangtua pemilik rumah, ruang keluarga, ruang makan, dan pantri. Adapun di lantai dua per unt ukannya lebih privat seperti kamar tidur utama, dua kamar tidur anak, ruang kerja, dan sebuah ruang untuk bersantai.

Dengan keterbatasan lahan maka ruang makan, pantri, dan ruang keluarga pada lantai dasar didesain menyatu tanpa sekat untuk memberikan kesan lebih luas. Selain itu, langit-langit yang cukup tinggi pada ruang keluarga juga memberikan kesan lapang. Cara lain untuk menyiasati lahan terbatas adalah dengan merancang satu ruangan yang dapat memiliki dua fungsi seperti ruang kerja yang sekaligus dapat difungsikan sebagai kamar tidur tamu.

Secara keseluruhan, hunian ini mampu memberikan solusi yang baik akan sebuah hunian dengan lahan terbatas yang mampu mengakomodasi kebutuhan penghuninya dengan baik tanpa mengorbankan kenyamanan penghuni ataupun kesehatan sebuah hunian. Desain fasad bangunan dengan  “permainan” blok­ blok masif juga mampu menghilangkan kesan hunian yang bulky.

Leave a Reply