Tag: Desain

Desain Indah Gerai Creperie, sangat Inspiratif

Kelezatan dan cita rasa yang khas dari creperie membuat salah satu hidangan ringan semakin hari semakin digemari masyarakat. Tidak heran, jika dewasa ini gerai-gerai yang menawarkan hidangan creperie semakin banyak peminatnya dan dapat kita temukan di mana-mana.

BERDIRI SEJAK TAHUN 2007, Momi & Toy”s Creperie telah memiliki 80 outlet di Jepang, 6 outlet di Shanghai, dan 3 outlet di Taipe. Kini gerai Momy & Toy’s Creperie juga telah hadir di Jakarta khusus untuk memenuhi keinginan para pencinta creperie di Indonesia. Gerai ini berlokasi di Plaza Senayan lantai 3, yang menawarkan beragam menu, baik sweet creperie maupun savory creperie, dengan resep asli dari Jepang yang memiliki cita rasa khas.

Gerai ini dibuka setiap hari d ri pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB. Beragam jenis creperi disajikan di sini dan dapat dicicipi oleh pengunjung. Contohnya adalah Banana Chocolate Cream dan Peach Cream unluk menu sweet creperic tau Tuna Cheese Salad dan Cheese Rice Egg Roll untuk menu savory creperie. Selain itu, Momi & Toy”s Creperie juga menyediakan beragam minuman sprti Ice Matcha Latte dan Mix Berry Frutte yang segar yaitu teh dengan campuran sirup dan buah berry di dalamnya.

Tidak hanya creperie lezat yang ditawarkan, tetapi juga desain interior gerai ini sangat menarik dan sedap dipandang. Konsultan arsitktur dan interior TSDS menerapkan konsep French chic dengan mengaplikasikan warna-warna pastel dan bentuk-bentuk “feminin” pada gerai ini. Adapunkonsep theatrical kitchen bar di usungdengan tujuan menarikpengunjung dengan aromacreperie yang menggoda. Theatrical kitchen bar ini jugadidesain agar pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan creperie.

Jika diperhatikan, gaya interior pada gerai ini terlihat banyak dipengaruhi oleh gaya Prancis, mengingat hidangan creperie sendiri awal mulanya berasal dari Prancis. Namun, jika diperhatikan dengan lebih saksama, layout serbaminimalis pada gerai ini jelas mengadopsi gaya Jepang, sesuai dengan negara asal Momi & Toy”s Creperie. Pada gaya arsitektur dan interior Jepang, sirkulasi dan layout yang efektif dan efisien merupakan ciri khasnya. Elemen dekorasi yang diaplikasikan pun banyak yang bernuansa Jepang.

Secara keseluruhan, dengan desain yang tepat dan layout yang baik, gerai mungil ini terasa begitu chic dan nyaman dengan gaya Prancis dan gaya Jepang yang berpadu harmonis dan apik. Banyaknya aplikasi material kayu, baik di bagian langit-langit, penutup lantai, dinding maupun furniturnya mampu menghadirkan suasana hangat dan nyaman bagi para pengunjung. Desain interior yang cantik, didukung dengan cita rasa creperie yang lezat, membuat gerai ini menjadi pilihan ideal untuk bersantai dan beristirahat sejenak keluar dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan.

 

 

NUANSA ORIENTAL YANG GLAMOR

Dalam rangka menyambut tahun baru Cina, Elite Grahacipta sebagai galeri interior berkelas kembali membuat pameran mock up interior bernuansa oriental. Dengan tema  “Celebrating Year of the Dragon 2012 “  Elite Grahacipta bekerja sama dengan dua orang desainer terkemuka yaitu Jaya Ibrahim dan Rieska Achmad. Karya keduanya dapat dilihat pada halaman Gria Asri Ini.

 

DESAIN INTERIOR bernuansa oriental saat ini dapat dikatakan sudah familier. Ketertarikan berbagai kalangan terhadap desain interior bernuansa oriental memberikan tempat tersendiri bagi para pencintanya. Terlebih lagi ketika menyambut

tahun baru Cina ini, penataan desain interior bernuansa oriental sangat pas untuk digunakan di hari spesial sebagai salah satu cara menyambut tahun baru. Elite Grahacipta telah mengusung nuansa oriental untuk pameran interior di tahun naga air ini. Para desainer dipersilakan untuk menunjukkan identitas dan karakter desain dari masing­ masing desainer untuk mengeksplorasi produk-produk dari Elite Grahacipta.

Jaya Ibrahim mendesain satu ruang makan dan ruang duduk dengan suasana yang agak berbeda dari umumnya. Warna merah dan emas yang sering tampil dalam perayaan tahun baru Cina, kini beralih pada penggunaan  warna  biru dan warna turquoise sebagai simbol dari tahun naga air. Dominasi warna biru dan turquoise tersebut terlihat pada  pemilihan  beberapa elemen desain interior  dan aksesori pengisi meja makan. Adapun  identitas  desain  oriental terlihat  pada pemilihan produk bernuansa Chinoiseries seperti pada kursi makan dengan sandaran pola oriental dan wallpaper  motif alam khas negeri timur  yang juga dilengkapi dengan guci keramik Cina. Secara keseluruhan Jaya ingin menciptakan sebuah ruang makan yang informai  dan berkesan lebih santai dengan pola penataan meja makan yang tidak simetris dan menghadirkan unsur organik berupa  bunga  segar. Namun, terlepas dari itu Jaya tetap ingin menciptakan kesan mewah dan elegan sebuah ruang makan dengan cara menghadirkan dua buah lampu gantung Zenith Midnight Blue Baccarat.

Untuk desain living room Jaya masih menampilkan nuansa yang serasi dengan ruang makan. Warna-warna senada yang masih didominasi warna biru dan turquoise terlihat pada aksesori pengisi ruang berupa dua buah single chair bergaya oriental dan bantal (cushion) pada sofa serta karpet.

Ada pula warna cokelat hadir sebagai penetral suasana melalui upholstery sofa yang berkesinambungan dengan beberapa bantal dan pemilihan lampu meja Candy Light Copper Baccarat yang ditempatkan pada konsol belakang sofa. Terdapat partisi berwarna emas dengan desain potongan cermin-cermin bulat yang memberikan kesan glowing dan efek pantulan yang unik.

Rieska Achmad mendesain beberapa mock up interior yang meliputi ruang duduk, dua ruang tidur dan ruang kerja. Rieska ingin mengusung tema eklektik dengan tampilan gaya hidup yang mewah sebagai dasar perancangannya . Furnitur oversize digunakan untuk memberikan kesan mewah dan mengisi aksesorinya dengan beberapa gaya dan dari beberapa daerah merupakan konsep gaya desainnya. Tampilannya dapat memberikan kesan yang berbeda pada setiap ruangnya. Contohnya pada setting ruang duduk di lantai satu Rieska menggunakan sofa semiklasik berwarna putih yang dipadukan dengan single chair bernuansa Chinoiseries.

Furnitur tersebut hadir dengan nuansa warna netral kemudian dimeriahkan dengan aksesori seperti bantal berwarna biru dan merah. Lampu gantung Baccarat yang digantung rendah pun memperkuat kesan mewah. Ada pula ruang tidur yang didesain dengan sangat lembut melalui paduan warna krem dan cokelat yang memberikan kesan elegan bergaya modern klasik. Selain itu kamar tidur di lantai tiga didesain dengan gaya klasik oriental. Aplikasi warna biru dan kuning keemasan terlihat menonjol pada aplikasi soft furnishing-nya.

Bedcover dan bantal menampilkan motif oriental yang memberikan kesan yang khas dalam rancangan ruang tidur ini.

Keseluruhan mock up ruang interior pun menampilkan sebuah desain yang berkarakter melalui sentuhan Jaya Ibrahim dan Rieska Achmad dengan kemewahan produk Elite Grahacipta dari furnitur, aksesori sampai lampu Baccarat

Inspirasi Desain Kantordari Pengacara Kondang Adnan Buyung Nasution

Siapa yang tidak kenal dengan Adnan Buyung Nasution, seorang pengacara yang kerap menangani masalah kontroversial dan sering membantu orang kecil.

PENGACARA yang khas dengan tampilan rambutnya yang_ berwarna putih keperakan ini akrab disapa  “Abang “ sangat  “heboh “ pada saat menangani kasus KPK yang terkenal dengan kasus  “cecak vs buaya “.

Di balik penanganan berbagai kasus yang pelik ini ternyata  Abang juga memiliki selera seni yang baik. Hal ini terlihat ketika tim Griya Asri meliput kantornya yang berlokasi di kawasan Jalan TB. Sim atupang, Pondok lndah, Jakarta Selatan.

Kantor seluas 700 m2 yang dimiliki oleh Adnan Buyung Nasution beserta tiga rekan kerjanya ini telah mengalami renovasi total. Yang menarik dari kantor ini adalah kepiawaian PIC, sekaligus konseptor dan arsitek dalam mengelola dan memanfaatkan barang-barang dari kantor lama. Konsep desain interior dan konsep perubahan ruangan sesuai dengan kebutuhan yang memunculkan kesan elegan sekaligus homey .

Kantor yang berada di lantai tiga di sebuah bangunan perkantoran tersebut ditangani oleh Ir. R. Sulistyo  Wicaksono, IAI, yang akrab dengan sapaan Cokie yang dibantu oleh desainer interior Ira B. Sangari dan Rukky (dari EASE), berhasil membuat kantor ini terlihat cantik dan atraktif dengan mengakomodasi berbagai fasilitas yang merupakan kebutuhan pemilik kantor. Secara keseluruhan kantor ini dibagi menjadi tiga zona yaitu zona privat , zona semipri vat dan zona area publik.  “Yang membuat saya senang adalah perencanaan desain yang saya percayakan kepada Cokie berhasil membuat ‘kejutan’ bagi kami. Semua furnitur dan elemen dekorasi interior dari kantor lama dapat dipakai kembali dan dapat menghasilkan suasana serta tampilan yang sangat berbeda, “ ujar Adnan Buyung Nasution menyampaikan kesannya tentang ruang kantornya yang baru.

Secara keseluruhan konsep yang diusung oleh Cokie adalah memanfaatkan semua barang yang sudah ada dan menyulap dengan konsep yang lebih fresh sehingga terasa mengalir dan nyaman. Hal ini dilakukan dengan menghadirkan suasana yang berbeda dengansuasana sebelumnya. Perubahan pertama yang dilakukan Cokie adalah membuat TOR perencanaan desain interior yang menyeluruh yaitu mengubah konsep desain interior klasik dengan konsep modern, clean dan pembagian zona yang jelas, dari perpindahan kantor sebelum nya di Jalan Gatot Subr oto, Jakarta Pusat, menuju ke kantor di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Area pintu utama ( entrance) yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu mengalami perubahan signiifikan . Untuk atap ditambahkan langit-langit  gantung ( dropped ceiling) supaya tidak berkesan formal dengan pemilihan pencahayaan yang sesuai dengan pemakaian material kayu pada seluruh dinding yang melengkung dan senada dengan meja resepsionis, serta ditambahkan ruang rapat (public area). Hal ini menjadikan suasana di area ini terasa lebih nyaman dan menjadi brand atau karakter dari law firm ABN & P.

Masuk ke ruang lebih dalam, kita akan mendapat  “kejutan “ dengan pembagian zonanya. Kita memasuki sebuah koridor yang menuju ruang kerja Abang. Pengolahan desain di area ini sangat menarik. Sang desainer interior berusaha menghadirkan konsep ruang terbuka yaitu dengan cara mengaplikasikan rumput sintetis sebagai karpet pada area sepanjang koridor sehingga seolah-olah kita berjalan di ruang luar. Koridor yang posisinya bersebelahan  dengan ruang penerima tamu ini tak lepas dari sentuhan seni yang menarik.

Pada bidang dinding yang melengkung oleh arsitek dan desainer interior dengan berkonsultasi kepada Abang dan partner dipasang kalimat bijak dalam bidang hukum yang dibingkai, sehingga jika kita berjalan di area ini kita disuguhkan dengan sederetan kata-kata bijak yang menarik.

Area privat yaitu ruang kerja Abang didesain bergaya nuansa semiklasik yang merupakan permintaan pemilik kantor diwujudkan secara detail mulai dari pemilihan furnitur, warna sampai pemilihan elemen dekorasinya. Semua furnitur dan elemen dekorasi ini adalah furnitur dan elemen dekorasi lama yang dimanfaatkan kembali.  “Memanfaatkan barang lama untuk diaplikasikan pada desain interior baru tidaklah mudah. Namun, bila ditempatkan pada posisi yang tepat akan menghasilkan suasana dan nuansa yang berbeda, “ ujar Cokie.

Sebagai sebuah kantor bonafide, Cokie pun mengarahkan perencanaan dan perancangan tiga buah ruangan rapat dengan kapasitas dan fasilitas yang berbeda. Sebuah ruangan rapat berukuran besar dapat berfungsi sebagai ruang serbaguna. Ruang ini memiliki pintu penghubung dengan ruangan rapat di sebelahnya sehingga jika diperlukan ruangan yang lebih luas lagi, pintu dapat dibuka.

Pengacara yang berkantor di sini terdiri dari Prof. Dr. Adnan Buyung Nasution sebagai pendiri, bersama tiga orang rekannya yaitu Pia A.R Akbar Nasution, Nugrahaningrum dan M. Sadly Hasibuan. Ruang kerja ketiga rekan tersebut ditempatkan sejajar dalam satu area. Ketiga ruangan kantor rekan ini berada pada satu sisi, sedangkan sisi di depannya didesain dengan konsep galeri. Di kedua dindingnya merupakan etalase benda seni (artwork) koleksi Abang. Artwork tersebut adalah kain-kain songket yang dibingkai dan dipadukan dengan beberapa artwork lainnya sehingga area koridor ini tampil bagaikan sebuah galeri.

Ujung koridor ini dipecah menjadi dua bagian. Di sisi kiri terdapat koridor yang di kedua sisinya terdapat ruang-ruang para pengacara atau staf yang jumlahnya sepuluh orang. Fasilitas lainnya yang tersedia adalah ruang perpustakaan yang berada di bagian belakang area lorong ini dan sebuah ruang servis untuk kepentingan para pegawai seperti ruang fotokopi. Adapun area servis seperti dapur dipisahkan dari ruang-ruang  utama yang letaknya di belakang area ini. Namun, tetap terdapat hubungan melalui pintu-pintu penghubung.

Abang yang ter kenal dengan motonya dalam bekerja yaitu menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu tersebut adalah sosok yang low profile. Lambang keadilan yang disimbolkan dengan burung hantu ini juga dipajang di kantor ini. Menurutnya, burung hantu ini adalah simbol kearifan (wisdom) yang sudah ada sejak zaman India kuno . Suku Abor igin telah memakai sim bol ini sejak dahulu. Dengan suasana kantor yang elegan dan nyaman ini, Bang Buyung se ma kin  “betah “ berada di ruang kerjanya untuk menyelesaikan be rbaga i kasus yang ditanganinya. Semoga dun ia hukum di tanah air kita akan se makin lebih baik ses uai dengan harapan Abang kita ini.

 

  • Adnan Buyung Nasution bersama sang PIC, konseptor dan arsitek Cokie.
  • Ruang penerima tamu yang didominasi unsur kayu ini terasa elegan dan nyaman yang merupakan ciri khas atau karakter dari brand kantor law firm ABN & P.
  • Ruang kerja Abang yang bernuansa semiklasik ini terasa lebih elegan, padahal seluruh furnitur adalah dengan memanfaatkan kembali furnitur yang lama.
  • Koridor menuju ruang kerja Abang mengusung konsep  “green “ yaitu dengan mengaplikasikan rumput sintetis sebagai karpet. Di sini kita seolah-olah berada di ruang luar.
  • Ruang rapat besar in[ merupakan hasil  “olahan “ Cokie dengan EASE yang berhasil memenuhi selera pemilik kantor.
  • Di salah satu sisi lorong pada dinding melengkung ini dipasang kata-kata bijak yang dibingkai sebagai motivasi bagi para karyawan dalam bekerja.

Area koridor para rekan kerja yang menyerupai galeri. Di salah satu sisi dinding dipajang artwork koleksi pemilik kantor yang ditata oleh ketiga partner Abang sehingga area ini tampil cantik dan elegan.

HANGAT BERKAT APLIKASI KAYU

Dewasa ini lahan untuk hunian semakin sulit diperoleh. Harganya pun semakin mahal, terutama di kota kota besar. Dalam hal ini hunian vertikal dan landed house dengan luas lahan yang mungil menjadi alternatif yang masuk akal.

 

SELAIN ITU kondisi bumi yang semakin rusak juga mendarong semua pihak untuk berperilaku  “hijau “. Hal ini juga berlaku dalam bidang desain. Desain yang berkelanjutan (sustainable) dan hijau tentulah menjadi hal yang relevan dan wajar untuk diterapkan. Di lain pihak, kebutühan penghuni rumah juga harus dapat dipenuhi dengan sebak baiknya. Maka dalam mendesain sebuah hunian tentu saja diperlukan integrasi dari semua aspek tersebut.

Kali ini tim Griya Asri barkesempatan untuk meliput dua buah hunian yang dikembangkan oleh PT Wahana Barigun Prima, pengembang yang berkomitmen untuk terus mewujudkan perumahan dengan desain yang berwawasan  “hijau “. Hunian yang pertarna berada di cluster The Papyrus Garden Gegerkalong sedangkan hunian yang kedua berada di chuster Papyrus Terrace. Yang menarik dari kedua hunian tersebut adalah dengan luas lahan yang terbatas, pemilik rumah tetap dapat menata ruangannya dengan baik.

Hunian pertama yang diliput memiliki luas lahan yang terbatas yakni 110 m2. Namun pemilik rumah dapat membuat huniannya terasa nyaman dengan pengeluran ruang yang tepat dan desain interior yang apik. Dalam mengolah sebuah ruangan terdapat Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu bentuk ruang, fungsi ruang, pemilihan furnitur, penempatan furnitur dan pemilihan warna.

Hunian dua lantai ini memiliki 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 2 ruang bersantai, 1 pantri dan  ruang makan serta taman yang ditenpatkan  di bagian depan hunian. Untuk menyiasati lahan yang terbatas, pemilik rumah tidak membuat partisi yang masif antara ruang tamu dan ruang bersantai. Dengan demikian kedua ruangan ini tetap terpisah tetapi suasana ruang tetap terasa lega dan nyaman. Pemilik rumah juga tidak memberikan batas sedikit pun antara ruang pantri, ruang makan dan ruang bersantai sehingga ruangan terasa lebih luas. Selain itu pemilik rumah juga memilih berbagai furnitur yang simpel, fungsional dan bergaya modern. Namun, pemilik rumah tetap memasukkan unsur material kayu yang diharapkan dapat membuat hunian menjadi  “hangat “ dan terasa alami.

Adapun hunian kedua yang diliput memiliki luas lahan yang sedikit lebih luas yati 140m2. Tidak jauh berbeda dengan hunian yang sebelumnya hunían dua lantai ini memiliki tiga kamar tidur, pantri yang digabung dengan minibar, satu ruang tamu, satu ruang bersantai dan taman kecil di bagian depan serta bagian belakang hunian.

Pemilik rumah banyak mengaplikasikan warna cokelat dari unsur kayu pada furnitur dan elemen desain interior hunian ini. Contohnya aplikasi partisi yang membatasi ruang tamu serta area pantri dan area makan. Partisi ini terbuat dari batang-batang kayu yang disusun secara vertikal. Tangga pada hunian ini juga banyak didominasi dengan material kayu.

Karena kepiawaian kedua pemilik rumah tersebut dalam menata desain interior huniannya, maka secara keseluruhan kedua hunian ini terasa alami, homey dan  “hangat “ dengan nuansa cokelat yang monokrom.

 

  1. Fasad hunian yang simpel ini berada di perumahan The Papyrus Garden dengan latar belakang suasana senja
  2. Ruang tamu dan ruang bersantai dipisahkan oleh partisi yang tidak masif, untuk menghindarkan kesan sempit pada lahan yang terbatas.
  3. Pantri ruang makan dan ruang bersantai dirancang tapa sekat agar berkesan tebih lapang. Pemilihan furnitur yang simpel dan fungsional merupakan pilihan tepat untuk hunian urban dengan lahan terbatas.
  4. Hunia yang berada di perumahan Papyrus Terrace ini memiliki nuansa cokelat yang monokromatik.
  5. Aplikasi kayu pada partisi, tangga dan elemen desain interior lainnya membuat suasana hunian menjadi terasa  “hangat “ dan nyaman.

HUNIAN TROPIS URBAN yang Inspiratif dan Bisa dicontoh

Memiliki sebuah hunian yang berlokasi strategis di tengah kota tentu didambakan oleh sebagian besar masyarakat urban, tetapi hal ini bukannya tanpa konsekuensi. Faktor keamanan, faktor keterbatasan luas lahan dan faktor kebisingan dari luar merupakan sejumilah faktor yang harus dipertimbangkan arsitek dalam merancang desain hunian di lingkungan urban yang padat.

HUNIAN yang diliput tim Griya Asri kall in berlokasi di kawasan urban kota Bandung. Permilik rumah merupakan dokter spesialis yarg memiliki sebuah klinik di tengah kota Bandung. la sengaja menempatkan huniannya tepat berada di belakang bangunan kliniknya. Jalan masuk menuju hunian merupakarn jalan yarig agak keil dengon lébar sekitar 3 meter. Secara keseluruhan bangunan ini memilili dua pintu masuk yaitu pintu melalui klinik yang berada di sisi jalan besar dan pintu yang mempunyai akses langsung ke hunian melalui jalan kecil di belakang.

Karena berada di lingkungan yang padat perumahan dengan jalan masuk yang tidak terlalu lebar, maka akan sulit untuk menikmati fasad hunian ini. Itulah sebabnya arsitek Alex Santoso membuat keputusan membuat konsep desain tertentu yaitu membuat orientasi banguran dalam. Namun, dengan luas lahan yang terbatas yaitu 370 m2 ditambah dengan kebutuhan ruangan yang banyak, tentu akan menyulitkan untuk membuat bangunan set back atau menciptakan innercourt.

Maka arsitek merancang sebuah koridor beser dengan ketinggian dua lantai pada area pintu masuk. Area koridor tinggi ini bertujuan agar depth bangunan dirasakan dan di eksterior hunion. Selain itu pada dibuat skylight yang berfungsi berfungsi memadukan cahaya matahari ke dalam sebagai penerangan. Koridor dengan skylight juga bertujuan untuk membawa suasana luar ke dalam hunian.

Proses desain hunian in dilakukan dalam dua tahap. Awalnya, arsitek diminta untuk merenovasi hunian dua lantai dengan ukuran lahan yang luasnya hanya separuh dari ukuran lahan yang sekarang. Di saat proses konstruksi sedang berlangsung,ternyata pemilik rumah berkesempatan untuk membeli lahan yang terada di sebelahnya, sehingga ukuran lahan secara keseluruhan adalah dua kali lebih yang tinggi luas dari luas lahan di awal proses desain. Dengan demikian arsitek pun harus marancang ulang desain awal dengan membuat konsep split level. Dengan demikian dapat dihasilkan sebuah desain baru tanpa mengorbankan struktur yang sudah terbangun.

Dengan konsep split level tersebut, pembagian area publik dan area privat pada ruang-ruang di dalam hunian menjadi lebih mudah. Lantai dasar dimanfaatkan untuk area servis, carport, pantri ruang makan dan taman. Adapun ruang-ruang ditempatkan di atas seperti tuang keluarga, kamar tidur utama, kamar tidur anak, ruang kerja dan perpustakaan.

Terlepas dari keterbatasan lahan dan proses desain yang rumit, arsitek sejak awal mengusung konsep tropis pada desain hunian ini. Bangunan tropis harus dibuat dengan memperhatikan pemanfaatan cahaya alami melalui bukaan dan skylight, perancangan sistem ventilasi alami yang baik dengan sistem cross ventilation serta menjaga suhu di dalam ruangan dengan penggunaan atap yang tinggi.

Penerapan skylight memang dilematis karena di satu sisi skylight berguna untuk memasukkan cahaya alami ke dalam ruangan sedangkan di sisi lain skylight juga dapat membuat temperatur ruangan menjadi lebih tinggi. Untuk itulah arsitek membuat detail pada skylight untuk mengatur penerimaan cahaya sesuai dengan kebutuhan.

Selain detail pada skylight, arsitek juga secara khusus menggarap detail pada tangga agar dapat memberikan daya tarik. Tangga dibuat double loaded. Bagian dalam adalah tangga spiral yang diperuntukkan sebagai tangga servis. Adapun pada bagian luar merupakan tangga utama yang mengelilingi tabung pembungkus tangga servis. Tangga utama ini dibuat dengan konstruksi baja. Uniknya, satu sisi plat baja bertumpu pada balok-balok IWF, sedangkan sisi lainnya bergantung pada handrail baja yang dibungkus dengan papan kayu. Dengan demikian anak tangga terlihat tipis dan ringan.

Unsur rumah tropis juga terlihat dari pengolahan tanaman dan elemen lanskap,  Elemen lanskap di sini berperan untuk  “melembutkan “ karakter yang kaku. Tanaman Sysigyum pada bagian pagar dibuat  “partisi hidup “ untuk menjaga privas dengan cara yang indah. Pada bagian dalam bangunan, banyak digunakan taman kering dan coral garden sebagai elemen lanskap.

Secara keseluruhan arsitek dapat menciptakan desain hunian dengan konsep tropis yang apik dan dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan penghuni rumah di dalam sebagai lahan yang terbatas

Konsep penting dalam perancangan rumah tinggal

Menciptakan sebuah persepsi yang tidak biasa untuk menghasilkan kualitas ruang dan kualitas visual yang jauh lebih baik merupakan konsep penting dalam perancangan rumah tinggal ini.

UNTUK mewujudkan konsep ini, sejak awal pemilik rumah memberikan kepercayaan penuh kepada arsitek untuk mendesain huniannya. Arsitek Tommy Wiriawan Suriajaja merespons  “tantangan “ tersebut dengan melakukan banyak eksplorasi pada rancangan hunian ini. Berbagai eksplorasi yang dilaksanakan tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan sebuah design hunian yang indah dan menarik secara estetika tetapi juga sebuah hunian yang dapat memenuhi kebutuhan pemilik rumah dengan sebaik-baiknya.

Lahan hunian ini berlokasi di kawasan Jakarta Selatan yang disekelilingnya masih kaya akan penghijauan. Hal yang menarik adalah lahan hunian tepat berada di seberang  “hutan “ kecil yang hijau nan asri dengan pohon-pohon tropis yang berukuran besar. Arsitek memanfaatkan potensi tersebut dengan mendesain ruang berkumpul terbuka yang menghadap langsung ke arah  “hutan “ kecil tersebut. Ruang berkumpul itu lah yang menjadi  “patokan “utama untuk menarik garis massa bangunan bagi rancangan ruang-ruang lainnya.

Ruang berkumpul ini ditempatkan berdckatan dengan bagian belakang batas lahan. Dengan demikian maka ruangan terlihat lebih besar dan luas. Selain itu tepat di depan ruang berkumpul juga dapat dimanfaatkan sebagai taman buatan. Taman ini merupakan daerah hijau yang terlihat seolah-olah menerus sampai ke area  “hutan “ kecil di seberang lahan. Taman tersebut juga memberikan manfaat sebagai ruang perantara terbuka untuk  “melunakkan “ sosok bangunan di sekitarnya serta menciptakan jembatan visual dari transisi antara hutan milik umum dan lahan pribadi.

Arsitek merancang pembagian fungsi ruang publik dan ruang privat yang jelas pada hunian ini. Lantai dasar diperuntukkan bagi ruang-ruang yang bersifat publik dan semipublik seperti ruang keluarga, dapur, taman dan ruang berkumpul. Dalam hal ini arsitek memberikan kesempatan agar bangunan dapat lebih  “bernapas “ dengan mendesain ruang berkumpul yang besar tanpa dinding bahkan tanpa kaca, atau yang biasa disebut pilotis. Dengan demikian siapa pun yang berada di ruangan ini akan merasa seperti berada di tengah alam dan hutan, dengan pemandangan indah di sekeliling ruangan dan udara segar yang senantiasa berhembus. Dengan demikian selain kualitas visual yang apik karena pandangan mengarah langsung ke area  “hutan “ kecil, ruang pilotis ini juga terasa sangat nyaman.

 

Adapun sebuah ruang-tamu kecil sebagai area untuk menyambut anggota keluarga. Ruang ini juga menghubungkan penghuni rumah ke lantai atas yang merupakan area yang bersifat privat seperti kamar tidur, utama dan beberapa kamar tidur anak. Karena berada di lantai atas, ruang-ruang privat ini memiliki view yang sangat indah dan hijau arah taman dan pepohonan.

Hal unik lain yang dilakukan arsitek adalah material yang digunakan pada hunian ini Arsitek banyak menerapkan material daur ulang ataupun material re-use. Contohnya aplikasi kayu bekas pada jendela, pintu dan langit-langit atap. Uniknya, arsitek tetap mempertahankan ukuran asli kayu-kayu tersebut, yang tentu saja berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Kayu bekas yang digunakan pada hunian ini ada pula yang berasal dari kayu bekas peti kemas.

Selain aplikasi kayu bekas yang dominan dalam membentuk fasad hunian, arsitek juga memadukannya dengan warna putih, warna batako ekspos, kaca bening dan warna terakota pada genteng. Oleh karena itu fasad hunian memiliki pola tambal sulam yang unik sekaligus menarik.

 

Secara keseluruhan berkat kepiawaian arsitek dalam memadukan daur ulang yang ramah, desain rumah tropis yang memaksimalkan potensi alam, udara segar dan cahaya alami, serta konsep untuk keluar dari persepsi umum, maka terciptalah hunian dengan nuansa yang baru, tampilan baru dan pengalaman baru  bagi penghuninya

KONSEP SELASAR & TAMAN DALAM

Halaman luas dan hijau merupakan  “barang langka “unluk rumah tinggal di kota besar. Karena ada  berbagai rancangan diformulasikan untuk menciptakan kesan indoor outdoor nan nyaman tanpa mengurangi privasi penghuni rumah.

 

KAWASAN pusat kota Bandung, Jawa Barat merupakan lokasi strategis tetapi sebagian dari rumah tinggal di area tersebut cenderung ditutup untuk mengatasi bising ataupun debu sehingga penghuni tidak leluasa menikmati lingkungan sekitar. Kondisi ini mendorong Ronald Pallencaoe dan Erick Laurentius S dari konsultan arsitektur Pranala Architect menerapkan konsep baru dalam desain kediaman klien yang berlokasi di tengah kota. Pada tahap awal, arsitek dan pemilik rumah sepakat untuk memilih hunian bergaya modern tropis sesuai dengan dengan gaya hidup pemilik rumah yang masih muda. Pemilik rumah juga meminta adanya area berkumpul yang semi outdoor, kamar tidur utama yang dilengkapi oleh walk in closet dan dua kamar tidur anak. Sebagai langkah pertama, rumah lama pada lahan seluas 670 m2 ini dirobohkan lalu dibangun massa bangunan utama setinggi dua lantai berbentuk huruf L .

Terdapat bangunan tambahan unruk servis dan garasi di muka rumah dan halaman belakang yang tersambung dengan taman dalam. Bangunan utama ditandai oleh atap model pelana sedangkan fasad bangunan dan wujud bangunan servis justru berupa boks-boks geometris yang diatur maju mundur secara dinamis. Untuk menjaga keamanan dan privasi penghuni rumah, fasad bangunan yang menghadap ke arah barat ini didominasi oleh dinding masif tanpa jendela kaca (faceless) sekaligus dapat meredarn teriknya cahaya matahari. Tampilan rumah yang bersahaja sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Agar ventilasi udara dan cahaya alami berjalan lancar, sopi-sopi di bawah atap dibuat transparan dari deretan balok kayu. Dinding fasad bangunan diberi finishing acian semen halus yang dikombinasikan dengan kamprot bestekstur kasar di lantai atas dan pelapis dari travertine di lantai bawah sehingga tampil kontras dengan rumput dan tanaman khas tropis di halaman.

 

Mengacu pada konsep rancangannya, arsitek ingin menciptakan  “pengalaman ruang “ yang tidak biasa bagi tamu ataupun penghuni rumah. Ketika melewati pintu depan, kita langsung menemui ruang tamu yang  “tertutup “ karena dikelilingi oleh dinding solid dan plafon yang cenderung rendah. Namun, ketika melangkah ke dalam, kita mulai merasakan plafon yang lebih tinggi dan akses menuju ke area servis. Kemudian, kita akan  “dikejutkan “ oleh selasar semi-outdoor yang mengantar kita ke pantri, ruang makan dan ruang keluarga di tengah rumah. Area transisi ini bersisian dengan taman dalam dan hanya disekat oleh pintu kaca lipat geser serta jendela kaca lebar sehingga memaksimalkan masuknya cahaya alami, memaksimalkan udara segar dan memaksimalkan kontinuitas visual antarruang. Desain ini berhasil menjadikan selasar dan taman dalam sebagai pusat kegiatan dan orientasi yang berkesan lapang dan kental dengan suasana indoor-outdoor.

Sesuai dengan keinginan pemilik rumah, selasar dilengkapi dengan seperangkat meja dan kursi kayu solid untuk area bersantai dengan pemandangan leluasa ke setiap sudut ruang dalam ataupun ke arah halaman. Plafon selasar juga didesain miring mengikuti bentuk atap pelana dan lebih panjang agar memberikan  “sensasi “ lapang sekaligus teduh. Jendela di dipasangi kusen kayu pada sisi vertikalnya agar menambah kesan tinggi pada ruangan sekaligus mengimbangi dimensi dinding yang lebih tebal dari umumnya. Elemen bangunan lainnya seperti tangga dan kabinet built-in pada pantri dirancang simpel (clean) dengan mengekspos tekstur atau warna asli bahan. Dalam memilih material, arsitek banyak memakai bahan pabrikasi seperti besi WS untuk kolom dan tiang di area selasar. Ada pula kusen alumunium dan kaca lebar untuk jendela,teritis dan pagar tangga sehingga menegaskan tampilan modern.

Finishing acian semen pada fasad bangunan juga diteruskan ke beberapa dinding didalam rumah. Bahkan dinding di lantai atas foyer sengaja  “dimajukan “ agar kesan tiga dimesinya lebih terasa. Finishing kamprot warna abu-abu di permukaan dinding luar dinding yang lebih tebal dar oleh warna putih pada plafon, dinding dan lantai dalam rumah. Untuk menciptakan kesan  “hangat “ arsitek banyak memakai kayu seperti pada bidang partisi dan pelapis plafon serta beberapa macam batu untuk penutup lantai selasar ataupun kaman mandi. Penataan furnitur nan simpel dan berwarna berwarna netral seperti putih, krem, cokelat dan hitam serta aksesoris yang atraktif turut mendukung suasana nyaman di rumah ini. Tata cahaya (lighting) baik dari lampu downlight, indirect lighting maupun lampu hias seperti lampu gantung di area makan menghadirkan suasana yang  “hidup “ dalam rumah. Secara keseluruhan desain rumah ini memberikan kepuasan dan kebanggaan bagi pemilik rumah dan arsiteknya.

 

  1. -3 Dinding fasad bangunan diberi kpmbinasi finishingacian semen halus, kamprot bertekstur kasar dan pelapis dari travertine sehingga memberikan kesan  “wajah “ yang masif tanpa bukaan (faceless).
  2. Kesab  “tertutup  “ di ruan tamu karena dikelilingi oleh dinding jendela dan plafon yang cenderung rendah diimbangi oleh penataan furniture kayu atau partisi dan pintu dari kayu solid
  • Penataan furniture yang simpel dan berwarna netral seperti krem,cokelat dan hitam turut mendukung suasana nyaman diruang duduk keluarga.
  • Finishingacian semen pada fasad bangunan juga diteruskan ke dinding di dalam rumah. Bahkan sebidang dinding di lantai atas foyer sengaja  “dimajukan “agar kesan tiga dimensinya lebih terasa
  • Selasar dan taman dalam ini merupakan pusat kegiatan dan orientasi ruang sekaligus menghadirkan kesan lapang serta kental dengan suasana indoor-outdoor
  • Pandangan luas dari dominasi pintu
  • Dan jendela kaca lebar di area makan dan pantri diimbangi oleh kesan  “hangat “ dari aplikasi kayu pada tangga partisi dan furniture
  • Keunikan area duduk privat dilantai atas ini adalah adanya pandangan yang luas ke ruangan dilantai bawah dan ke arah halaman. Namun, privasi tetap terjaga oleh desain atap model pelana.
  • Kamar tidur utaa terasa luas dengan dominasi warna putih pad plafon , dinding dan lantai serta penataan furniture built-inyang simpel dan berlapis veener kayu eksotik seperti white oak.
  • Selaras dan taman dalam rumah ini berhasil diolah menjadi pusat kegiatan dan orientasi ruang yang berkesan lapang serta kental dengan suasana indoor-outdoor.
  • “Permaian “ books geometris

Dan atap model pelana yang dipadu dengan jendela dan pintu kaca pada desaign rumah ini berhasil memaksimalkan masukan cahaya alami dan memaksimalkan udara segar, untuk menangkap pemandangan hijau di sekitar hunian.

Flavor Bliss Alam Sutera, Tempat yang cocok untuk Bersantai

Tempat yang berlokasi di Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang ini merupakan satu pilihan yang tepat untuk para penggemar kuliner. Bar ini didesain cantik dengan suasana yang hangat sehingga berhasil menajdi tempat bersantap yang menyenangkna bagi kaum urban masa kini.

TEMPAT BERKUMPUL dan bersantap bersama teman ini bernama Vintage Wine & Grill berada pada bangunan ruko, dengan luas 680 m2, yang dibagi menjadi dua lantai. Bar

ini menyajikan pilihan menu yang menggugah selera serta disempurnakan dengan interior ruangan yang menarik. Bar ini menampilkan konsep baru dalam penyajian makanan, minuman, dan hiburan. Apabila melihat tampilan luarnya, tampak nama bar pada neon box dengan warna merah yang catchy.

Dengan membuat suasana nyaman dan hangat untuk bersantai, bar sengaja dihadirkan agar peng unjung merasa betah. Tidak hanya itu, bar ini juga men yediakan tempat minum yang dirancang berhadapan dengan para pengun jung. Dengan konsep ini, Vintage Wine & Grill ingin memberikan pengalaman kuliner yang khas dan memberikan kesempatan kepada pengunjung menikmati minuman favorit sambil menya si an keahlian bartender menyiapkan minum an.

Vintage Wine & Grill mengusung multikonsep, yang terdiri dari restoran, gudang anggur, bar, lounge cerutu, dan ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Secara umum, Ir. Artyan Trihandono dan Danny Lum anto mendesain interior bar ini dengan menerapkan gaya vintage. Namun, untuk memberikan sesuatu tampilan yang berbeda dan berkesan bagi para pengunjung, desainer menitikberatkan pada pemilihan warna dan aplikasi motif.

Dalam menata interior, desainer memberi penekanan pada desain lighting dan penggunaan elemen-elemen artwork untuk mendukung interiornya. Mural misalnya, dilukis secara langsung. Kemudian, lantainya juga dilukis.

Ada pula poster-poster yang ditempel untuk mendukung tema bar. Di bagian function room terdapat dinding yang diberi lampu-lampu antik. Adapun beberapa meja yang berbentuk seperti gentong dan artwork menjadi pengisi ruang.

Desainer juga memanfaatkan area lantai yang kosong sebagai media lukisnya. Hal ini merupakan “kejutan “ apabila pengunjung melihat ke arah lantai. Pada lantai ini terdapat satu bidang dinding yang dicat berwarna-warni seperti warna merah, putih, biru, kuning, dan abu abu.

Di bar banyak menggunakan elemen seperti kaca pat ri, lam pu, lukisan mural, dan kayu. Penggunaan lampu untuk menekankan bentuk oval serta menerangi ketika pengunjung berjalan. Setiap sudut mengusung konsep dan suasana yang berbeda.

Yang menarik dari bar ini adalah pengunjung yang saling berinteraksi berkat adanya void yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Adapun ceiling yang didesain dengan rangka ekspos menghadirkan kesan ruangan yang luas dan lapang.

Ketika berada di dalam bar ini, pengunjung dapat melihat keunikan pertama yaitu saat menaiki anak tangga menuju teras. Pengunjung akan bertemu dengan pintu masuk yang tinggi dan besar daun pintunya yang didesain berupa kotak-kotak dengan ornamen kuningan dari Vietnam. Pintu masuk dar bar ini berupa selasar dari kayu, begitu pula lantai, dinding, plafon, dan pintu.

Lantai sebelum masuk didesain dengan kayu-kayu berwarna. Dari bagian sebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah dinding kaca berupa etalase yang memajang anggur (wine) dari berbagai merek, harga, dan mutu. Anggur ini yang sengaja diperlihatkan agar pengunjung yang akan masuk dapat melihat terlebih dahulu wine yang akan di nikmatinya.

Setelah itu, pengunjung akan melihat dan menjumpai ruangan makan bernuansa natural. Desainer ingin menghadirkan daya tarik melalui artwork dengan kombinasi lampu-lampu gantung bulat yang memenuhi plafon. Adapun beberapa wall lamp antik juga mengisi sebagian dinding pada ruangan makan.

Masuk ke dalam, terdapat tempat island bar yang dikelilingi oleh kursi-kursi bar. Hal ini merupakan eye cacther yang dibuat dengan menggunakan kayu-kayu bekas bantalan rel kereta. Di sisi bar terdapat . tempat minum yang furniturnya dibedakan. Di area duduk terdapat tempat minum untuk dua orang, juga terdapat ruang untuk menonton pertunjukan band.

Dinding di lantai bawah diekspos menggunakan kayu, bata merah, dan kaca patri. Menuju area dining di lantai dua, pengunjung diajak ke dalam ruang makan yang lebih privat. Terdapat ruang terbuka dengan fasilitas tempat duduk berupa sofa. Di ruang ini nuansa vintage kembali hadir.

Beranjak ke lantai atas, terdapat dua ruang privat dengan kapasitas 15 orang per ruang. Selain it u, juga terdapat dua ruangan untuk karaoke. Di salah satu dindingnya diberikan hiasan artwork berupa pipa kayu yang berukuran besar. Balkan yang bisa menjadi area duduk pilihan di lantai dua dipenuhi dengan beberapa kursi vintage berlatar belakang dinding mural. Pengunjung dapat menikmati suasana jalan raya. Secara keseluruhan, Vintage Wine & Grill ini dapat menjadi tempat bersantai yang nyaman bagi para pengunjung.

Rumah dengan Desain Kontemporer Berkarakter Kuat

SEJAK AWAL, pemilik rumah berpesan kepada arsitek bahwa huniannya ini harus dirancang dengan mempertimbangkan berbagai kegiatan publik yang harus diakomodasi. Hunian ini merupakan hunian kedua bagi pemilik rumah dan memang dikhususkan untuk menampung berbagai kegiatan sosial pemilik rumah, mulai dari menjamu banyak tamu, sebagai tempat acara pengajian dan buka bersama sampai sebagai tempat berkumpul yang nyaman bersama teman-teman.

Dengan luas lahan sekitar 1300 m2, tim arsitek d-associates merancang hunian ini dengan konsep tropis yang ditandai dengan banyaknya ruang-ruang luar (terbuka) seperti taman, kolam, dan selasar. Konsep hunian yang memiliki banyak ruang-ruang luar seperti ini sangat menunjang kebutuhan utama hunian dalam mengakomodasi berbagai kegiatan komunal. Ruang-ruang luar juga memungkinkan adanya pencahayaan alami dan penghawaan alami yang baik bagi ruangan-ruangan yang terdapat di hunian ini.

Organisasi ruang yang baik dan zoning yang jelas adalah kunci sebuah hunian yang nyaman. Hal tersebut dapat ditemukan pada hunian ini. Sebelum masuk ke bagian dalam hunian, terlebih dahulu kita akan disambut sebuah koridor panjang dengan jajaran koleksi luki san di salah satu sisinya. Koridor ini didesain agar tercipta “prosesi “ sebelum masuk ke bagian dalam hunian. Tim arsitek juga merancang sebuah kolam ikan di ujung koridor ini, sebagai area transisi yang menandai perpindah an dari area publik ke area privat.

Adapun di area depan bagian dalam hunian terdapat ruang multifungsi yang besar. Ruang multifungsi ini merupakan ruang utama yang dapat mengakomodasi berbagai kegiatan komunal yang berbeda-beda. Di bagian luarnya, terdapat area taman tengah yang cukup luas dengan selasar kayu yang membentang dari ruang multifungsi yang berada di bagian depan hunian ke arah ruang makan dan dapur yang berada di bagian belakang hunian. Pada ruang multifungsi ini terdapat bukaan yang menghadap ke area taman tengah sehingga ruangan terasa lebih lapang dan terbuka.

Selain ruang multifungsi dan area taman tengah, juga terdapat tangga utama yang merupakan ikon menarik pada hunian ini karena adanya jajaran kolom baja di salah satu sisinya. Sebagai satu-satunya akses vertikal pada hunian ini, tangga utama ini akan membawa penghuni dan para tamu ke ruangan dengan suasana yang “terbuka “ di lantai atas. Pada lantai atas terdapat ruangan khusus untuk bersantai dan ruangan menjamu para tamu, lengkap dengan meja biliar. Ruang tamu ini juga m emiliki bukaan-bukaan kaca ke arah kolam ikan dan area taman tengah. Banyaknya bukaan di dalam hunian ini diharapkan dapat membuat penghuni dan para tamu dapat merasakan sensasi outdoor di dalam ruangan.

Tidak hanya organisasi ruang yang apik yang terdapat dalam hunian ini. Keteraturan dan ketepatan dalam mengaplikasikan material juga menjadi salah satu hal yang menarik dari hunian ini. Keteraturan dalam aplikasi material bukan berarti menjadi membosankan. Keteraturan justru tetap hadir di tengah-tengah eksperimen arsitek dalam memadukan berbagai material secara tidak biasa. Misalnya, pada bagian fasad bangunan, warna baja yang has terlihat kontras jika disand ingkan dengan bahan lokal seperti batu “curi “ dari Jawa Barat yang memiliki karakter yang juga kuat. Atau, pada area tangga yang memadukan material bja dan kayu. Perpaduan berbagai materi atau seperti panel logam, lantai kayu, lantai beton, jerui besi dan panel kaca menghasilkan tampil an yang unik dan harmonis. Hal ini juga ditunjang dengan berbagai “permainan “ warna dan tekstur pada elemen arsitektur dan elemen interiornya sehingga dapat memberikan karakter yangkuat pada keseluruhan hunian ini.

Guest House dengan Desain Yang Serasi

SALAH SATU pilihan aktivitas akhir pekan bagi masyarakat urban adalah dengan menghindari suasana hiruk-pikuk kota sembari menikmati hawa sejuk dataran tinggi bersama keluarga.

Dengan nuansa arsitektur bergaya klasik Amerika atau lebih spesifiknya mengacu pada gaya American Foursquare, sebuah guesthouse di kawasan Pasteur, Bandung, Jawa Barat ini mengingatkan kita pada bungalo awal abad ke- 19 di negara bagian Amerika yang mendapat pengaruh gaya arsitektur Victorian dari Eropa.

Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 300 m2 ini awalnya merupakan tanah kosong tidak terawat yang berada di lahan pojok (huk). Posisi lahan tersebut ternyata memberi keuntungan tersendiri yaitu terdapatnya dua akses bangunan yakni sisi depan sebagai akses utama dan sisi samping yang oleh sang arsitek diolah menjadi area parkir tambahan yang terdapat pintu langsung ke area belakang guesthouse.

Guesthouse yang terdiri dari empat lantai ini diarsiteki oleh Mathias Indra atas permintaan Cuna, sang pemilik guesthouse yang menyenangi langgam arsitektur klasik Amerika. Baginya, gaya tersebut tak lekang oleh waktu (timeless) dan belum banyak terdapat di Indonesia sehingga harapannya dapat tampil sebagai sesuatu yang unik dan berbeda. Dengan demikian, terwujudlah sebuah bangunan bernuansa klasik yang diinginkan tersebut dengan beberapa penyesuaian dengan lahan dan aktivitas penghuni. Hal pertama yang terlihat adalah massa bangunan tunggal berbentuk kotak atau persegi (square) sebagaimana ciri gaya American Foursquare. Namun, karena sisi samping lahan ini berbentuk miring maka massa bangunan pun tidak berbentuk kotak sempurna. Pengolahan fasad bangunan juga mencerminkan ciri gaya American Foursquare yakni dengan finishing sebagian dindingnya berupa material bata karang pilang yang disusun membentuk mosaik. Karakter lain dari langgam ini adalah susunan lantai yang terdiri dari lantai basemen, dua lantai penuh, dan setengah lantai pada bagian atas bangunan.

Hal tersebut sesuai dengan guesthouse yang memiliki luas total bangunan mencapai sekitar 600 m2 ini. Dalam penataan ruangnya, bangunan ini disesuaikan dengan aktivitas penghuni. Dalam hal ini, lantai basemen, dengan ketinggian plafon yang lebih rendah (sekitar 210 cm), sebagai area servis di sisi belakang bangunan. Adapun area depan yang langsung berhubungan dengan carport depan rencananya akan dijadikan sebagai ruang usaha yang mendukung fungsi guesthouse seperti kafe dan restoran. Sementara itu, lantai satu digunakan sebagai area utama penerimaan tamu guesthouse, beberapa kamar, dan area sarapan. Hal menarik di lantai ini adalah showroom yang berdekatan dengan area penerimaan tamu. Ruang ini diperuntukkan sebagai area display aksesori kreasi sang pemilik guesthouse bersama rekannya. Selain  itu, di ruang ini juga akan diadakan workshop seperti untuk scrapbook dan jenis barang kerajinan (craft). Adapun bay window ala gaya Victorian pada ruang menjadi penegas karakter eksterior (fasad bangunan) sekaligus interior. Sudut yang terbentuk di antara ketiga sisi jendela membentuk beranda (porch) yang dimanfaatkan sebagai tempat duduk.

Kerja sama yang kompak antara arsitek dan pemilik guesthouse dapat dilihat pada penataan interior. Sang pemilik guesthouse yang berlatar belakang pendidikan desain gratis sangat terinspirasi dengan gaya interior Shabby Chic yang bercirikan vintage, penggunaan material kain (fabric), dan penggunaan warna pastel. Hasilnya, karakter tersebut dapat ditemui pada int erior kamar guesthouse ini. Tamu yang akan menginap dapat memilih kamar berdasarkan dekorasinya.

Tiga kamar di lantai satu dan enam kamar di lantai dua memiliki tema dekorasi yang berbeda­beda. Aneka aksesori chic didapat pemilik guesthouse dari hasil  “perburuannya “ke negara tetangga seperti Australia, Sing apura, dan Cina.

Yang menjadi ciri lain gaya American Foursquare adalah pemanfaatan lantai paling alas (top floor). Area ini terdiri dan ruang tanpa sekat (open space) dengan empat jendela atap yang menonjol dari atap bangunan (dormer). Adapun penyesuaian pada guesthouse ini adalah loteng (attic) di lantai tinga yang didominasi warna off white dijadikan area hunian bagi pemilik guesthouse in i yang terdiri dari dua kamar tidur, ruang duduk, ruang servis, dan dapur. Sebagai respons terhadap iklim tropis, terdapat treatment khusus pada plafon yang mengikuti bentuk atap yakni berupa bilah gypsum yang bertumpu pada GRC Board. Sisi papan yang menghadap genteng tersebut disemprot dengan zat yang berfungsi sebagai insulator panas. Dormer dimunculkan pada kedua kamar tidur yang dapat terlihat langsung dari fasad bangunan. Sebagaimana bay window pada showroom di lantai satu, sisi dalam dormer ini juga diberi bantalan empuk sehingga dapat digunakan sebagai area duduk bersantai sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah.

Penggabungan showroom, penginapan bagi tamu dan hunian bagi pemilik guesthouse menjadikan bangunan ini tampil padu (compact) dengan fungsi setiap ruangan yang berjalan baik. Pengolahan detail ruang yang tidak dibiarkan polos tetapi tetap fungsional merupakan karakter khas pada bangunan bergaya klasik Amerika ini.