Tag: taman

Mendesain sebuah taman yang Bernuansa Hijau

Mendesain sebuah taman yang melengkapi bangunan komersial didasari pada sudut pandang yang berbeda dengan taman residensial. Taman pada bangunan komersial selain ditujukan untuk menambah keindahan visual bangunan, juga difungsikan untuk memberikan citra positif yang berkaitan dengan brand perusahaan.

HAL TERSEBUT diterapkan pada taman yang melengkapi sebuah bangunan komersial yang bergerak dalam bidang usaha laundry and dry cleaning yang berada di Jakarta Pusat. Di antara deretan panjang bangunan yang berfungsi sebagai showroom, bangunan ini terlihat berbeda dan menonjol karena tampil menawan dengan karakter bangunan dan taman hijau yang memenuhi welcome area.

Seperti halnya bangunan komersial lainnya, halaman yang sangat terbatas karena didominasi oleh area parkir tidak mengurangi ide kreatif untuk mengembangkan rancangan taman yang indah dan nyaman. Halaman depan bangunan yang dirancang sebagai welcome area sebagian besar habis digunakan untuk keperluan parkir kendaraan pelanggan yang berkunjung. Dengan kapasitas maksimal kurang lebih enam buah mobil maka halaman depan ditutup dengan batu secara permanen agar mampu menahan beban lalu lintas sesuai dengan kebutuhan.

Namun, pemilik bangunan masih menghendaki adanya hijauan yang “melunakkan” bangunan lima lantai tersebut agar terlihat lebih hijau dan “hidup”. Keberadaan taman sebagai bagian dari fasad bangunan juga mencerminkan brand image sebuah usaha yang berorientasi pada peduli green architects. Hijauan mengisi celah-celah yang tersedia di antara dinding dan bangunan. Aplikasi “hijau “ juga dilakukan pada dinding-dinding pembatas kaveling melalui vertical garden. Ternyata green inspiration tersebut selain memberi dampak positif yang hijau dan menyejukkan, juga menarik perhatian pelanggan yang melewati jalan raya yang cukup padat, terutama di hari dan jam kerja.

Cerukan yang berada di antara dinding tinggi dan bangunan dikreasikan secara unik, dengan vertical garden yang hampir menutupi bidang sampai ke lantai dua, dengan jajaran fountain yang disangga dengan pedestal. Dinding vertikal menjadi latar belakang dari fountain serta background dari grafir nama perusahaan. Bidang kaca transparan yang memisahkan ruang di dalam dengan taman memberi peluang terjadinya interaksi dari dalam ke luar.

Konsep vertical garden juga diformasikan pada kedua dinding pembatas kaveling. Setiap segmen bidang dinding diisi dengan satu bidang vertical garden yang tingginya disesuaikan dengan tinggi dan lebar dinding tersebut. Selanjutnya, bidang tersebut seolah-olah “diapit “ oleh tanaman palem yang membentuk bingkai agar terlihat lebih fokus.

Beberapa pohon tinggi dan sedang seperti kamboja bunga pink dan palem Caryota mengisi bidang horizontal, yang ditanam pada area-area di sekitar tangga entrance dan showcase di lantai dasar. Keberadaan tanaman tersebut sebagai unsur keseimbangan terhadap komposisi vertikal dari bangunan supaya terlihat proposional seimbang dan enak dipandang mata.

Komposisi tanaman pada setiap bidang vertikal didesain berbeda, disesuaikan dengan lokasi ketersediaan cahaya alami yang menerpa ke dinding. Namun, hampir keseluruhan menggunakan tanaman hias berdaun indah yang memiliki warna dan motif yang eksotis. Pada dinding yang lebih TERNAUNGI, komposisi tanaman disesuaikan dengan tanaman yang menyukai suasana teduh seperti calodium, epipremnum Philo dendron, dan kadaka yang secara keseluruhan cenderung berwarna hijau yang lebih tua.

Adapun pada dinding yang mendapat cahaya alami secara langung maka lebih memungkinkan dihadirkan beragam tanaman hias, terutama yang menampilkan keberagaman warna seperti variegata, hijau kekuningan bahkan warna merah atau maroon. Ekspresi warna dan motif akan muncul sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima.

Sistem penyiraman dilakukan secara mekanik melalui saluran pipa khusus yang mengelilingi setiap bingkai (frame). Selanjutnya, secara otomatis air aka didistribusikan secara merata ke semua titik tanam. Media tanam menggunakan talang air yang sudah dimodifikasi menjadi pot dengan beberapa lubang sebagai tempat untuk titik tanam yang menghadap ke arah depan. Selanjutnya, talang-talang tersebut disusun pada dinding menggunakan penyangga yang didesain khusus dari bahan metal yang kuat dan antikarat. Persiapan penanaman setiap bidang dilakukan di nursery sesuai dengan komposisi tanaman yang telah diatur. Setelah tanaman tumbuh lebat, selanjutnya dirakit kembali pada dinding yang sebenarnya sesuai dengan pola dan susu nan yang telah diatur sebelumnya.

Dengan demikian, tanaman akan langsung terlihat lebat dan padat menutupi dinding yang menjadi latar belakangnya.

Sistem penyiraman dilakukan secara mekanik melalui saluran pipa khusus yang mengelilingi setiap bingkai (frame). Selanjutnya, secara otomatis air akan didistribusikan secara merata ke semua titik tanam. Media tanam menggunakan talang air yang sudah dimodifikasi menjadi pot dengan beberapa lubang sebagai tempat untuk titik tanam yang menghadap ke arah depan. Selanjutnya, talang-talang tersebut disusun pada dinding menggunakan penyangga yang didesain khusus dari bahan metal yang kuat dan antikarat. Persiapan penanaman setiap bidang dilakukan di nursery sesuai dengan komposisi tanaman yang telah diatur. Setelah tanaman tumbuh lebat, selanjutnya dirakit kembali pada dinding yang sebenarnya sesuai dengan pola dan susunan yang telah diatur sebelumnya.

Dengan demikian, tanaman akan langsung terlihat lebat dan padat menutupi dinding yang menjadi latar belakangnya.

Konsep taman vertikal ini menjadi inspiras; hijau yang dapat diterapkan pada sebuah bangunan komersial. Meskipun didesain berorientasi komersial sebagai servis kepada pelanggan tetapi tetap mempert imbangkan unsur keindahan dan yang penting menampilkan identitas yang berbeda sehingga mampu menjadi “magnet “ yang mengundang tamu untuk datang.

TAMAN RESOR Yang ROMANTIS

Gagasan awal bermula dari keinginan pemilik resor untuk memberdayakan barang koleksi antik yang semula kurang berfungsi, agar menjadi barang yang lebih bermanfaat. Setelah semuanya dipadupadankan baik bangunan maupun koleksi antiknya jadilah bentuk bangunan pondokan antik dan unik yang ukurannya bervariasi, yang difungsikan sebagai bangunan resor Sentuhan taman natural bergaya tropikal pedesaan mendukung tampilannya dengan mengusung konsep resor yang semula digagas.

 

KOMPLEKS Jadul vilage Resort & Spa Menempati sebuah area terbuka dengan kontur  tanah yang berbentuk seperti mangkuk, di awasan Lembang-Bandung. Konsep taman yang dirancang dan dibangun oleh Reza Anwar dan tim berhasil  “menyulap “ lahan asli berupa padang rumput bekas sawah sampai menjadi taman tropis dan alaml yang mengelilin gi bangunan-bangunan antiknya hanya dalam kurun waktu satu tahun saja.

Reza menerapkan konsep romantis yang mengangkat eksotisme tanaman tropis dan tanaman produktif yang mudah dijump ai di sini tetapi memiliki keind ahan alami. Di antara komposisi softscape tersebut, ditempatkan beberapa benda seni (artwork) antik yang  “tidak semestinya “ ditempat kan di taman sehinggater lihat unik dan ar tistik . Set iap sudut dirancang berbeda untuk menghindari pengulangan dan memberikan  “petualangan ruang “ yang menyatu dengan konsep bangunan.

Konsep eksterior dirancang untuk menegaskan fungsi ruang dan pengelompokan clustering yaitu bangunan penginapan yang terdiri dari vila tipe Gebyok, vila tipe Joglo dan vila tipe Limasan, serta area penunjang seperti spa, lobi dan restoran. Semua cluster berorientasi pada lobi sebagai tltik terendah dengan sebuah  “ruang “ yang dlberi nama Alun-alun sebagai pusat orientasi ruang, berupa hamparan rumput dengan permukaan tanah yang berkontur  dan meninggi kearah luar.

Area taman yang mengelilingi vila tipe Gebyok menampilkan keistimewaan tanah yang berkontur. Komposisi beragam tanaman yang mengelilingi bangunan seolah-olah menjadi pagar hidup. Tanaman yang strukturnya vertikal seperti Heliconia dan Ca/athea rosemary diposisikan pada barisan paling belakang, yang selanjutnya dipadukan dengan tanaman filler yang tumbuhnya ke samping seperti Philodendron sebagai pengisi yang disesuaikan dengan batas pandang penikmat taman. Sudut yang sangat curam kontur tanahnya ditanami dengan pakis ekor monyet (Cyathea sp), dengan tanaman pakis­ pakisan, paku sarang burung atau kadaka yang mengisi celah diantaranya, sehingga menyerupai tebing di pegunungan. Kontur tanah yang menurun curam ke arah jalur pedestrian, dibuat trap, dengan anak tangga yang ditutup dengan batu templek sebagai pijakan agar tetap berkesan bersih dan nyaman.

Vila tipe Joglo berada pada posisi yang lebih datar, sehingga keunikan dan karakteristik unitnya ditampilkan melalui

pemilihan beragam jenis tanaman pisang­ pisangan. Bahkan di beberapa sudut ditanam Strelitzia yaitu tanaman pisang-pisangan yang memiliki bunga yang sangat unik dan eksotis. Demikian pula Heliconia dengan bunganya yang tegak ke atas (Heliconia caribeae) atau yang menjulur ke bawah (He/iconia rostrata).

Karakter tropis dari tanaman yang berdaun lebar tersebut dipadukan dengan kelompok Zingiberaceae yang memiliki kemiripan karakter seperti honje (Etlingera elatior) dan Wax Ginger (Tapeinochilus ananassae) dengan bunganya yang berwarna merah muncul dari permukaan tanah.

Konsep yang berbeda diaplikasikan pada taman yang mengelilingi vila  tipe  Limasan yang dirancang berupa pool garden. Tiga massa bangunan dipasisikan saling menyi ku, dibatasi dengan regal sebagai gerbang menuju ke setiap area vila. Selanjutnya, ketiga regol dihubungkan dengan jembatan yang seolah-olah mengapung di atas kolam teratai. Desain pintu regal yang dibingkai dengan keramik bakar merupakan aksentuasi dan menjadi elemen taman yang eksatis.

Taman yang mengelilingi spa merupakan taman tersembunyi (hidden garden ), karena terletak tersembunyi di balik vila tipe Limasan. Desainer sengaja membuat konsep yang sangat berbeda di dalamnya sehingga memberikan petualangan yang penuh  “kejutan “. Kesan yang sangat luas dan terbuka pada area penerima dan Alun-alun pada area sebelumnya seakan-akan diubah melalui konsep yang liar (wild) penuh detail pada spa pool garden. Massa bangunan antik yang berukuran lebih kecil menjadi bangunan spa, masing-masing dihubungkan dengan jembatan yang seolah­ olah mengapung di atas pool garden. Hampir seluruh permukaan pool tertutup oleh tanaman teratai yang bunganya akan mekar sampai tengah hari. Pola aliran gerakan air diatur tinggi rendahnya dengan membuat  “bendungan “ dari batu kali besar sehingga terjadi pergerakan seperti aliran sungai di alam. Pakis-pakis ekor monyet dipadukan dengan pakis sarang burung, menjadi pengarah menuju ke area yang lebih masuk ke dalam.

Konsep pengembangan taman di seputar restoran berawal dari ide mengangkat suasana rumah bergaya pedesaan di antara sawah seperti yang ditampilkan  “padi subak tourism “ di Bali. Pola irama masa tumbuh tanaman padi yang hanya berumur pendek menampilkan pemandangan yang berbeda yaitu pemandangan masa t anam, masa tumbuh sampai masa padi membentuk bulir dan menguning. Gagasan inilah yang diusung pada konsep area ini.

Kebetulan area restoran berada pada area terbuka dan pada posisi tanah yang sangat curam konturnya, sehingga massa bangunan yang terdiri dari beberapa tipe bangunan resto ditempatkan pada posisi dan ketinggian yang berbeda untuk memberikan dinamika. Di antara massa bangunan tersebut dibuat petakan­ petakan sawah yang bersusun seperti sistem subak di Bali. Di area yang lebih teduh diterapkan taman tropis dengan memadukan beragam pakis sehingga terlihat seperti tebing pegunungan.

Pencahayaan di senja hari dan malam hari merupakan penegas suasana romantis yang ingin ditonjolkan. Penekanan konsep pencahayaan selain untuk keamanan dan orientasi ruang, juga menonjolkan keindahan elemen taman di dalamnya, termasuk keindahan bangunan, tanaman yang berkarakter sampai ke beragam artwork yang menyatu dengan keseluruhan taman dan bangunan. Semua sajian ini merupakan satu kemasan yang memberikan sentuhan personal yang berkarakter.

KONSEP SELASAR & TAMAN DALAM

Halaman luas dan hijau merupakan  “barang langka “unluk rumah tinggal di kota besar. Karena ada  berbagai rancangan diformulasikan untuk menciptakan kesan indoor outdoor nan nyaman tanpa mengurangi privasi penghuni rumah.

 

KAWASAN pusat kota Bandung, Jawa Barat merupakan lokasi strategis tetapi sebagian dari rumah tinggal di area tersebut cenderung ditutup untuk mengatasi bising ataupun debu sehingga penghuni tidak leluasa menikmati lingkungan sekitar. Kondisi ini mendorong Ronald Pallencaoe dan Erick Laurentius S dari konsultan arsitektur Pranala Architect menerapkan konsep baru dalam desain kediaman klien yang berlokasi di tengah kota. Pada tahap awal, arsitek dan pemilik rumah sepakat untuk memilih hunian bergaya modern tropis sesuai dengan dengan gaya hidup pemilik rumah yang masih muda. Pemilik rumah juga meminta adanya area berkumpul yang semi outdoor, kamar tidur utama yang dilengkapi oleh walk in closet dan dua kamar tidur anak. Sebagai langkah pertama, rumah lama pada lahan seluas 670 m2 ini dirobohkan lalu dibangun massa bangunan utama setinggi dua lantai berbentuk huruf L .

Terdapat bangunan tambahan unruk servis dan garasi di muka rumah dan halaman belakang yang tersambung dengan taman dalam. Bangunan utama ditandai oleh atap model pelana sedangkan fasad bangunan dan wujud bangunan servis justru berupa boks-boks geometris yang diatur maju mundur secara dinamis. Untuk menjaga keamanan dan privasi penghuni rumah, fasad bangunan yang menghadap ke arah barat ini didominasi oleh dinding masif tanpa jendela kaca (faceless) sekaligus dapat meredarn teriknya cahaya matahari. Tampilan rumah yang bersahaja sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Agar ventilasi udara dan cahaya alami berjalan lancar, sopi-sopi di bawah atap dibuat transparan dari deretan balok kayu. Dinding fasad bangunan diberi finishing acian semen halus yang dikombinasikan dengan kamprot bestekstur kasar di lantai atas dan pelapis dari travertine di lantai bawah sehingga tampil kontras dengan rumput dan tanaman khas tropis di halaman.

 

Mengacu pada konsep rancangannya, arsitek ingin menciptakan  “pengalaman ruang “ yang tidak biasa bagi tamu ataupun penghuni rumah. Ketika melewati pintu depan, kita langsung menemui ruang tamu yang  “tertutup “ karena dikelilingi oleh dinding solid dan plafon yang cenderung rendah. Namun, ketika melangkah ke dalam, kita mulai merasakan plafon yang lebih tinggi dan akses menuju ke area servis. Kemudian, kita akan  “dikejutkan “ oleh selasar semi-outdoor yang mengantar kita ke pantri, ruang makan dan ruang keluarga di tengah rumah. Area transisi ini bersisian dengan taman dalam dan hanya disekat oleh pintu kaca lipat geser serta jendela kaca lebar sehingga memaksimalkan masuknya cahaya alami, memaksimalkan udara segar dan memaksimalkan kontinuitas visual antarruang. Desain ini berhasil menjadikan selasar dan taman dalam sebagai pusat kegiatan dan orientasi yang berkesan lapang dan kental dengan suasana indoor-outdoor.

Sesuai dengan keinginan pemilik rumah, selasar dilengkapi dengan seperangkat meja dan kursi kayu solid untuk area bersantai dengan pemandangan leluasa ke setiap sudut ruang dalam ataupun ke arah halaman. Plafon selasar juga didesain miring mengikuti bentuk atap pelana dan lebih panjang agar memberikan  “sensasi “ lapang sekaligus teduh. Jendela di dipasangi kusen kayu pada sisi vertikalnya agar menambah kesan tinggi pada ruangan sekaligus mengimbangi dimensi dinding yang lebih tebal dari umumnya. Elemen bangunan lainnya seperti tangga dan kabinet built-in pada pantri dirancang simpel (clean) dengan mengekspos tekstur atau warna asli bahan. Dalam memilih material, arsitek banyak memakai bahan pabrikasi seperti besi WS untuk kolom dan tiang di area selasar. Ada pula kusen alumunium dan kaca lebar untuk jendela,teritis dan pagar tangga sehingga menegaskan tampilan modern.

Finishing acian semen pada fasad bangunan juga diteruskan ke beberapa dinding didalam rumah. Bahkan dinding di lantai atas foyer sengaja  “dimajukan “ agar kesan tiga dimesinya lebih terasa. Finishing kamprot warna abu-abu di permukaan dinding luar dinding yang lebih tebal dar oleh warna putih pada plafon, dinding dan lantai dalam rumah. Untuk menciptakan kesan  “hangat “ arsitek banyak memakai kayu seperti pada bidang partisi dan pelapis plafon serta beberapa macam batu untuk penutup lantai selasar ataupun kaman mandi. Penataan furnitur nan simpel dan berwarna berwarna netral seperti putih, krem, cokelat dan hitam serta aksesoris yang atraktif turut mendukung suasana nyaman di rumah ini. Tata cahaya (lighting) baik dari lampu downlight, indirect lighting maupun lampu hias seperti lampu gantung di area makan menghadirkan suasana yang  “hidup “ dalam rumah. Secara keseluruhan desain rumah ini memberikan kepuasan dan kebanggaan bagi pemilik rumah dan arsiteknya.

 

  1. -3 Dinding fasad bangunan diberi kpmbinasi finishingacian semen halus, kamprot bertekstur kasar dan pelapis dari travertine sehingga memberikan kesan  “wajah “ yang masif tanpa bukaan (faceless).
  2. Kesab  “tertutup  “ di ruan tamu karena dikelilingi oleh dinding jendela dan plafon yang cenderung rendah diimbangi oleh penataan furniture kayu atau partisi dan pintu dari kayu solid
  • Penataan furniture yang simpel dan berwarna netral seperti krem,cokelat dan hitam turut mendukung suasana nyaman diruang duduk keluarga.
  • Finishingacian semen pada fasad bangunan juga diteruskan ke dinding di dalam rumah. Bahkan sebidang dinding di lantai atas foyer sengaja  “dimajukan “agar kesan tiga dimensinya lebih terasa
  • Selasar dan taman dalam ini merupakan pusat kegiatan dan orientasi ruang sekaligus menghadirkan kesan lapang serta kental dengan suasana indoor-outdoor
  • Pandangan luas dari dominasi pintu
  • Dan jendela kaca lebar di area makan dan pantri diimbangi oleh kesan  “hangat “ dari aplikasi kayu pada tangga partisi dan furniture
  • Keunikan area duduk privat dilantai atas ini adalah adanya pandangan yang luas ke ruangan dilantai bawah dan ke arah halaman. Namun, privasi tetap terjaga oleh desain atap model pelana.
  • Kamar tidur utaa terasa luas dengan dominasi warna putih pad plafon , dinding dan lantai serta penataan furniture built-inyang simpel dan berlapis veener kayu eksotik seperti white oak.
  • Selaras dan taman dalam rumah ini berhasil diolah menjadi pusat kegiatan dan orientasi ruang yang berkesan lapang serta kental dengan suasana indoor-outdoor.
  • “Permaian “ books geometris

Dan atap model pelana yang dipadu dengan jendela dan pintu kaca pada desaign rumah ini berhasil memaksimalkan masukan cahaya alami dan memaksimalkan udara segar, untuk menangkap pemandangan hijau di sekitar hunian.